MENJADI KRISTEN YANG INKLUSIF

30 Jul 2017

Matius 15:21-28

21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” 24 Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” 26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” 27 Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

 

Sobat Teruna, kita bukanlah keturunan bangsa Israel, bangsa pilihan Allah yang dijanjikan sejak zaman Abraham untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Kebenaran itu sungguh tidak dapat diganggu gugat, mengingat janji Tuhan ialah ya dan amin sampai tak berkesudahan.

 

Di atas semuanya itu, kita, orang-orang percaya, patut bersyukur walaupun kita bukan keturunan bangsa pilihan. Tetapi karena keadilan Allah terbuka bagi semua orang, kita menjadi orang-orang terpilih untuk memeroleh belas kasihan dan menjadi pewaris kerajaan-Nya kelak di sorga. Keadilan Allah di sini bersifat inklusif atau tidak tertutup hanya untuk sebagian orang saja. Keadilan yang inklusif itu secara nyata ditunjukkan Yesus dalam perenungan kita hari ini.

 

Sikap Yesus yang tadinya tidak menggubris permintaan perempuan Kanaan (ay.23 & 24), berubah menjadi peduli bahkan mengabulkan permintaan perempuan tadi (ay. 28). Perubahan sikap ini terjadi karena (1) Yesus ingin membuka mata murid-muridNya yang adalah bangsa Israel di mana secara kultur masih bersikap eksklusif - untuk melihat kasih Allah adil bagi semua bangsa, pertama Israel dan kedua kepada semua yang beriman pada-Nya; dan (2) Sekaligus menjadi penguat dasar iman kita, bahwa bangsa non-Israel pun layak menerima pengampunan dan hidup kekal di dalam iman kepada Yesus Kristus (bnd. Efesus 1:13, 2:13-16).

 

Nyata sudah, sobat Teruna, ketika Yesus bisa bersikap adil inklusif dengan tidak memandang bangsa, suku, bahkan status sosial orang-orang yang ditolong bahkan ditebus-Nya, haruslah kita mengikut suri teladan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Sebarkanlah kabar baik ini kepada semua bangsa, sobat Teruna! Kami, Kristen Inklusif!

Berdoalah agar Firman Tuhan hari ini menjadi rhema dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Tuhan Tuhanku, Yesus, belakangan ini banyak terjadi ketidakadilan sosial di bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain. Banyak dari saudara-saudara seimanku yang didera oleh berbagai macam persekusi. Biarlah Engkau menguatkan mereka selalu. Di lain sisi, biarlah aku menjadi saksi-Mu yang mengasihi secara inklusif apa pun situasi yang ku’ hadapi.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon