IRI HATI ITU MENGERIKAN

I Korintus 3:4-7

1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.” 2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhanmengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 9 Firman Tuhan kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” 10 Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

Kisah Kain dan Habel sudah sering kita dengar. Mungkin sejak masih anak-anak pada saat IHMPA. Kain dan Habel adalah dua saudara kandung. Lahir dari satu ayah dan satu ibu. Sebagai kakak beradik seharusnya mereka saling mengasihi, saling menegur, saling mengingatkan dan saling melengkapi. Namun, apa yang terjadi?

Berawal dari persembahan Kain dari hasil tanahnya yang tidak diterima oleh Allah sementara persembahan kambing domba milik Habel diterima oleh Allah. Kain menjadi panas hati. Ya, dia iri hati. Iri hati menyebabkan kegeraman dan panas hati. Bahkan dikatakan muka Kain tidak berseri ketika dia merasakan iri hati yang hebat. Selanjutnya, Kain meneruskan niat jahatnya. Ketika kita sudah masuk dalam perasaan iri hati, maka dosa sudah mengintip di depan pintu. Dia datang untuk menggoda kita guna melanjutkan iri hati itu ke bagian yang lebih mengerikan. Kain melanjutkannya dengan membunuh adiknya, Habel. Hasilnya, Allah begitu murka dan mengutuk Kain atas apa yang telah dibuatnya itu.

Sobat Teruna, jangan pernah sekali pun memberikan tempat di hati kita untuk iri hati bersemi. Pada pembacaan beberapa hari sebelumnya dikatakan bahwa mari kita melihat anugerah Allah yang luar biasa di kayu salib. Kita semua berharga di mata-Nya. Kita diberikan potensi yang berbeda dan tidak perlu membandingkan potensi yang kita miliki dengan yang dimiliki oleh orang lain. Kita yang harus terus menggali potensi kita dan dengan tulus mempersembahkan segala apa yang telah diberikan Tuhan kembali kepada-Nya, untuk kemuliaan nama-Nya. Ketika setiap orang menghargai potensi yang dimiliki, dipergunakan dengan semestinya di dalam kerendahan hati, niscaya tidak akan ada perasaan iri hati.

Berdoalah agar Firman Tuhan hari ini menjadi rhema dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Tuhan, ajarlah aku untuk mempersembahkan setiap potensi yang aku miliki untuk kemuliaan-Mu, bukan membandingkannya dengan potensi yang dimiliki oleh orang lain.