KESEMPATAN KEDUA

26 Aug 2017

 

 

Yohanes 8:2-11

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

Sobat Teruna, suatu hari saya pernah ditimpuk batu oleh seorang teman. Walaupun batu kerikil, tapi rasa sakitnya lumayan. Itu cuma satu batu kerikil dan saya sudah kesakitan.

 

Namun suasana pagi itu sangat berbeda. Bukan hanya ditimpuk batu, tetapi terancam dirajam oleh bebatuan. Seorang wanita terancam dirajam batu oleh rakyat karena tertangkap basah setelah semalaman berbuat zinah. Tiba-tiba ia menjadi pusat perhatian karena para ahli Taurat dan orang Farisi menyeret dirinya ke tengah-tengah suatu kerumunan di Bait Allah untuk menerima hukuman. Dipermalukan habis-habisan. Menurut hukum Musa, seorang wanita harus dirajam sampai mati apabila kedapatan berbuat zinah. Iya, sampai mati. Dia pikir hari itu dia pasti mati. Dia sudah berbuat dosa besar, berzinah dengan suami orang. Dan dia pun istri orang lain. Yesus ada di situ. Perempuan itu berdiri di situ. Orang-orang yang menolak Yesus-pun ada di situ.

 

Apa yang terjadi? Perempuan itu tetap hidup. Ia bisa kembali pulang ke rumah dan kembali menata hidupnya yang berantakan. Ia bisa mulai mencoba resep masakan yang baru untuk menyenangkan hati suami dan anak-anaknya. Ia bisa kembali menikmati senyum keluarganya. Ia mendapatkan kesempatan kedua. Kunci masuk ke dalam kesempatan itu adalah perkataan Yesus yang lemah lembut yang mengatakan bahwa Ia tidak menghukum perempuan itu, lalu menyuruhnya pulang dan jangan berbuat dosa lagi.

 

Pengampunan Tuhan adalah kesempatan kedua yang Ia berikan. Bersyukurlah.

Berdoalah agar Firman Tuhan hari ini menjadi rhema dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Ya Tuhan, terimakasih atas kesempatan kedua yang Engkau anugerahkan bagi kami. Kami bersyukur ya Tuhan.

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon