KAYA-MISKIN


Lukas 16:19-25

19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Sobat Teruna, ketika mendengar kata KAYA, biasanya yang langsung terlintas di pikiran kita adalah uang banyak, rumah mewah atau mobil yang bagus. Akibatnya, banyak orang rela menghalalkan segala cara untuk meraih itu semua. Tapi, benarkah itu adalah simbol kekayaan sejati? Rick Warren, penulis buku terkenal Purpose Driven Life yang juga melayani sebagai pendeta di Amerika mengungkapkan bahwa ketika bukunya meledak di pasaran, ia menerima keuntungan sangat besar. Dalam tahun pertama, dana sebanyak sepuluh juta dolar Amerika ia peroleh. Saat itu, Rick segera menerapkan prinsip kebalikan dari persepuluhan. Jika biasanya seseorang memberi 10% untuk Tuhan dan hidup dari 90% penghasilannya, Rick memutuskan untuk memberi 90% pada Tuhan dan hidup dari 10% penghasilannya. Apakah dengan demikian, Rick menjadi miskin? Ternyata tidak, ia justru semakin diberkati dengan kelimpahan. Ada kedamaian, sukacita dan kehangatan yang ia rasakan dalam hidupnya.

Sobat Teruna, inilah makna kekayaan yang sejati dalam iman kepada Tuhan. Orang kaya yang menderita di alam maut setelah meninggal ternyata mengalami hal yang berbeda dengan sukacita yang dialami oleh Lazarus yang miskin semasa hidupnya (ay. 22-24). Ternyata harta benda dan kemewahan bukanlah segalanya. Kekayaan yang sejati adalah memiliki iman yang kokoh dan kasih yang melimpah. Tanpanya, kita tetap akan disebut berkekurangan walaupun harta kita tak terhitung banyaknya. Jadi, marilah kita sejak masa teruna tekun mengumpulkan kekayaan sejati. Yakinlah bahwa sukacita akan terus kita kita alami!

Berdoalah agar Firman Tuhan hari ini menjadi rhema dalam kehidupan Sobat Terunax :

Ya Tuhan, biarlah aku dapat memperoleh kekayaan sejati dalam iman pada Yesus Kristus, Juruselamat hidupku.

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon