REHAT


Imamat 25:1-7

1 Tuhan berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi Tuhan. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagiTuhan. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Kita bersekolah pada hari Senin hingga Jumat. Hari Minggu libur. Di beberapa sekolah, hari Sabtu termasuk hari libur. Tujuannya agar ada waktu beristirahat dari rutinitas, memulihkan kondisi untuk kemudian melanjutkan tugas belajar lagi pada minggu yang baru. Coba bayangkan bila kita harus bersekolah tiap hari tanpa ada hari libur. Jenuh dan lelah ya? Hampir dapat dipastikan, semakin hari prestasi kita semakin menurun karena kelelahan dan jenuh.

Demikian pula dengan Tanah. Kepada bangsa Israel, Tuhan berfirman, bahwa tanah dalam enam tahun lamanya boleh ditabur, dikelola dan dirantingi pokok anggurnya dan hasil buahnya. Tetapi pada tahun ketujuh, selama satu tahun, tanah tidak boleh ditaburi dan kebun anggur tidak boleh dirantingi. Tanah harus beristirahat. Seluruh yang tumbuh sendiri bukan karena hasil yang ditabur, tidak boleh dituai dan buah anggur pun tidak boleh dirantingi, karena tumbuhnya adalah karena usaha Tuhan sendiri. Hasil tanah selama tahun ketujuh itu haruslah menjadi makanan mereka dan makanan orang miskin, makanan budak dan makanan yang menumpang di tanah mereka dan juga makanan bagi ternak serta binatang hutan yang liar. Dan tahun ketujuh itu disebut tahun Sabat. Setelah tujuh kali tujuh tahun (49 tahun), maka tahun kelimapuluhnya harus disyukuri dengan ‘pesta besar’. Mengistirahatkan tanah dilengkapi dengan pesta syukuran bagi kebersamaan dan kepada Tuhan.

Sobat Teruna, kita belajar bahwa tanah sama seperti manusia, butuh rehat dari akritifitas rutin pada waktu-waktu tertentu. Ilmu alam dan ilmu psikologi diimbangi dengan berita firman Tuhan bahwa siklus pendayagunaan alam ini harus seimbang. Pada masa tertentu, kita dan alam butuh rehat dan menaikkan syukur atas kebaikan Tuhan.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan, aku mau merawat tanah lingkunganku dan juga diriku dengan bijak agar semakin hari lingkungan dan aku semakin produktif, saling menguntungkan dan menjadi kesukaan bagi Tuhan.