MENGAMPUNI DIRI SENDIRI

9 Oct 2017

 

 

Lukas 15:11-32

11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

 

 

Pada salah satu ajang bakat di televisi, ada peserta yang terlihat sedih karena melakukan kesalahan kecil dan gagal masuk ke babak final. Peserta ini merasa sedih. Ibunya menasihati dia untuk melupakan kekalahannya dan menyemangatinya untuk ikut kembali pada kesempatan lain. Belajar dari kesalahannya, pada tahun berikutnya dia mencoba kembali dan berhasil menjadi juara satu.

 

Dalam bacaan kali ini terjadi juga kepada anak bungsu yang sudah menyia-nyiakan kepercayaan ayahnya untuk menjaga harta bendanya. Dia pergi dari rumah, berfoya-foya dan akhirnya jatuh miskin. Ketika uangnya sudah habis, dia kembali ke rumah. Karena kasih sayang ayahnya, dia menyambut kepulangan anaknya dengan membuat pesta. Sebagai anak tentu dapat kita bayangkan betapa menyesalnya dia saat itu. Tetapi jika ia tenggelam dalam rasa penyesalannya dan tidak lekas kembali pulang, maka hati sang ayah akan kembali hancur dan menghasilkan masalah yang baru.

 

Sobat Teruna, adakalanya ketika kita sudah terjatuh, kita enggan untuk bangkit. Pengakuan kita akan kesalahan itu adalah sesuatu yang sangat penting. Tuhan ingin kita belajar dari setiap permasalahan kita. Tetapi jika kita tidak mau belajar dari masalah itu bahkan lari dari masalah, maka akan timbul masalah lain sehingga akan menjadi banyak dan susah terselesaikan. Demikian pun hendaknya kita tidak mempersalahkan diri sendiri karena kesalahan dan kegagalan kita, karena Allah sudah mengampuni kita. Sangat penting jika kita cepat menyadari kesalahan dan kembali ke jalan Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan mengampuni kita jika kita dengan sungguh sungguh menyesalinya. Atas dasar pengampunan-Nya itulah kita harus dapat melangkah maju untuk masa depan yang lebih baik.

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Tuhan terima kasih karena pengampunan-Mu. Berikanlah aku kekuatan agar aku tidak mengulangi kesalahanku.

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon