MEMURNIKAN DIRI KEMBALI


Ratapan 4:1-13

1 Ah, sungguh pudar emas itu, emas murni itu berubah; batu-batu suci itu terbuang di pojok tiap jalan. 2 Anak-anak Sion yang berharga, yang setimbang dengan emas tua, sungguh mereka dianggap belanga-belanga tanah buatan tangan tukang periuk. 3 Serigala pun memberikan teteknya dan menyusui anak-anaknya, tetapi puteri bangsaku telah menjadi kejam seperti burung unta di padang pasir. 4 Lidah bayi melekat pada langit-langit karena haus; kanak-kanak meminta roti, tetapi tak seorang pun yang memberi. 5 Yang biasa makan yang sedap-sedap mati bulur di jalan-jalan; yang biasa duduk di atas bantal kirmizi terbaring di timbunan sampah. 6 Kedurjanaan puteri bangsaku melebihi dosa Sodom, yang sekejap mata dibongkar-bangkir tanpa ada tangan yang memukulnya. 7 Pemimpin-pemimpin lebih bersih dari salju dan lebih putih dari susu, tubuh mereka lebih merah dari pada merjan, seperti batu nilam rupa mereka. 8 Sekarang rupa mereka lebih hitam dari pada jelaga, mereka tidak dikenal di jalan-jalan, kulit mereka berkerut pada tulang-tulangnya, mengering seperti kayu. 9 Lebih bahagia mereka yang gugur karena pedang dari pada mereka yang tewas karena lapar, yang merana dan mati sebab tak ada hasil ladang. 10 Dengan tangan sendiri wanita yang lemah lembut memasak kanak-kanak mereka, untuk makanan mereka tatkala runtuh puteri bangsaku. 11 Tuhan melepaskan segenap amarah-Nya, mencurahkan murka-Nya yang menyala-nyala, dan menyalakan api di Sion, yang memakan dasar-dasarnya. 12 Tidak percaya raja-raja di bumi, pun seluruh penduduk dunia, bahwa lawan dan seteru dapat masuk ke dalam gapura-gapura Yerusalem. 13 Hal itu terjadi oleh sebab dosa nabi-nabinya dan kedurjanaan imam-imamnya yang di tengah-tengahnya mencurahkan darah orang yang tidak bersalah.

Kitab Ratapan, salah satu karya Nabi Yeremia yang secara khusus menggambarkan kesedihan dan penderitaan emosional Yeremia atas kerusakan Yerusalem, yang menderita karena hukuman Allah sebab pemberontakannya yang dilakukan berulang-ulang terhadap Allah. Pada bacaan kita hari ini, digambarkan bagaimana Yerusalem (dan orang-orang Yehuda) yang dulu berjaya bagai emas tua dan murni menjadi tak berarti dan hina seperti bongkahan yang dibuang di ujung jalan, bagaimana kesejahteraan dan ketenteraman yang dulu dirasakan sirna oleh pengkhianatan yang dilakukan terhadap Tuhan, bagaimana kebanggaan seorang umat yang berharga di mata Allah menjadi lebih hina bahkan dari Sodom yang dibinasakan-Nya.

Sobat Teruna, jika kita sudah memahami bahwa Tuhan membenci perbuatan dosa dan tidak membedakan siapa pun yang berdosa akan ditegur-Nya, maka pada saat ini jika ada di antara kita sedang dalam pergumulan untuk bertobat, seperti itulah kiranya kegelisahan bahkan kengerian yang digambarkan Yeremia tentang murka Allah. Yang kita pahami tentunya tidak hanya apa yang Tuhan tidak suka, sebaliknya pada saat Tuhan melihat kesungguhan dan kemurnian hati kita untuk bertobat dan kembali ke jalan yang dikehendaki-Nya, maka seperti Ratapan Yeremia ini, pada akhirnya akan ada sebuah harapan baru untuk pemulihan dan pemurnian diri kita kembali, oleh Allah sendiri.

Jatuh dalam dosa, menyimpang dari kehendak Tuhan, melakukan kesalahan-kesalahan yang mendukakan hati Tuhan adalah hal yang manusiawi. Namun menurut Yeremia, hal-hal itu memudarkan kemurnian kita di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, kita wajib untuk kembali memurnikan diri kita di hadapan-Nya dengan pertolongan dan anugerah Tuhan itu sendiri.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Kuatkan aku saat aku meratapi teguran-teguran-Mu ya Tuhan, dan murnikan aku kembali dengan Roh Kudus-Mu, supaya aku kembali layak di hadapan-Mu.