BENCI JADI SAYANG


Kisah Para Rasul 9:3-9

3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” 5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” 7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun. 8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. 9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

Sandra sudah lama menjadi pemimpin cheer leader (pemandu sorak) di sekolahnya. Sikap ramah dan selalu memberi contoh yang baik, membuatnya dikagumi dan dipercaya oleh anggota cheers, pelatih dan para guru. Tapi sebulan terakhir, Sandra dilanda isu tak sedap. Dia dikabarkan menggunakan obat-obatan terlarang (drugs) agar berani tampil saat beraksi sebagai pemandu sorak. Kabar itu membuat Sandra dijauhi oleh anggota cheers. Dia juga dipanggil kepala sekolah dan dimintai keterangan. Belakangan terungkap bahwa semua adalah cerita bohong yang dikarang Sarah, anggota cheers yang ingin merebut posisi Sandra. Ketika dipertemukan dengan Sarah, Sandra tidak marah. Dia hanya menanyakan mengapa Sarah tega menyebar fitnah tentangnya. Sandra pun memaafkan Sarah, bahkan mengajaknya tetap bergabung di tim pemandu sorak. Sikap Sandra itu, membuat Sarah malu. Dia pun menyesal dan berjanji akan menjadi aggota pemandu sorak terbaik yang selalu mendukung Sandra.

Sobat Teruna, penyesalan yang dirasakan Sarah ini, tak jauh beda dengan apa yang tergambar dalam kisah pertemuan Saulus dengan Tuhan Yesus dalam bacaan firman kita hari ini. Saat Saulus menuju Kota Damsyik untuk menangkap pengikut Yesus yang sangat dibencinya, Tuhan Yesus menjumpai Saulus lewat cahaya berkilauan dan mempertanyakan mengapa Saulus menganiaya-Nya. (ayat 4-5). Siapa sangka perjumpaan yang singkat itu justru mengubah jalan hidup Saulus, bahkan memulihkan hatinya dari yang penuh kebencian menjadi penuh cinta terhadap Yesus dan mengikut-Nya.

Sobat Teruna, jika saat ini kita merasa tertekan karena ada yang membenci keberadaan kita sebagai pengikut Yesus, ingatlah kisah Saulus. Kita tak perlu membalas dengan kebencian, karena Tuhan yang kita sembah mampu memulihkan benci menjadi sayang.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Yesus, ajarlah aku untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa memulihkan hatiku agar tetap penuh kasih, meskipun dibenci.