FOLLOWERS & FOLLOWING

Keluaran 14 : 1-8

1 Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, demikian: 2 “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut. 3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. 4 Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah Tuhan.” Lalu mereka berbuat demikian.5 Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” 6 Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta. 7 Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. 8 Demikianlah Tuhan mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan.

Pernah mendengar nama Gempita Nora Marten (Gempi), Rafatar Malik Ahmad (Rafatar), El Barack Alexander (El) atau Jonathan R Sugianto (Tatan)? Ya, remaja hits zaman now pasti tahu siapa mereka. Meskipun masih balita, Gempi, Rafatar, El dan Tatan, sangat terkenal di kalangan netizen (sebutan untuk warga/pengguna media sosial). Hal itu setidaknya terlihat dari jumlah followers (pengikut/diikuti) akun media sosial mereka yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Tapi memiliki banyak followers tak berarti bahwa keempatnya adalah pemimpin. Di kehidupan nyata, Gempi, Rafatar, El dan Tatan adalah following (mengikuti) contoh atau perintah dari orang tua dan kakak mereka.

Sobat Teruna, dalam kehidupan ini, kita sering diperhadapkan pada situasi menjadi followers atau following. Dalam bacaan firman hari ini, kita dapat melihat Nabi Musa menjalankan kedua peran tersebut. Di mata bangsa Israel, Musa adalah sosok yang diikuti. Tapi di saat bersamaan, Nabi Musa adalah sosok yang mengikuti perintah Tuhan. (ayat 1-4). Kehadiran Tuhan dalam kepemimpinan Musa, menjadikan setiap perintahnya bagi bangsa Israel tidak hanya diikuti, tapi juga berujung pada keberhasilan. (ayat 8b). Hal sebaliknya dapat kita lihat pada kepemimpinan Firaun. Ketidakhadiran Tuhan dalam kepemimpinan Firaun, menjadikannya bertindak seturut egonya (5-8b), yang pada akhirnya berujung pada kebinasaan.

Sobat Teruna, dari pembacaan firman hari ini kita diingatkan bahwa menjadi followers atau following dalam setiap aspek kehidupan kita tidaklah penting, selama kita menempatkan Tuhan sebagai sosok yang memimpin. Jika Tuhan yang memimpin hidup kita, sudah pasti kita tak akan dibiarkan sendiri dan Dia akan senantiasa menyertai kita untuk melalui berbagai tantangan dan persoalan hidup.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, jadilah pemimpin hidupku, agar aku tak mengikuti egoku sendiri, tetapi senantiasa mematuhi perintah-Mu.