DARURAT KASIH

I Yohanes 4:7-16

7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Rasul Yohanes adalah salah satu dari dua belas murid Yesus. Yohanes melihat bagaimana Yesus melakukan berbagai pengajaran dan mujizat, bahkan bersedia menghadapi hukuman dan kematian pedih yang tidak seharusnya Dia tanggung. Rasul Yohanes menulis surat ini sekitar 50 tahun setelah peristiwa kebangkitan dan saat itu timbul keresahan di kalangan jemaat dari ajaran palsu yang didengungkan oleh kalangan orang yang mengaku percaya. Kelompok ini membelot dan menyangkal bahwa Yesus bukanlah Juruselamat (1Yoh 2: 19,22).

Di dalam bacaan kita, sedikitnya 18 kali Yohanes menuliskan kata yang berunsur “kasih”. Hal ini hendak menegaskan kepada kita kekayaan kasih Allah bagi manusia. Memang kita tidak pernah melihat Allah (ay. 12) tetapi kita dapat mengenal Dia melalui apa yang diperbuat-Nya yaitu kasih. Seperti halnya kita dapat menikmati arus WiFi namun tidak melihatnya. Jika Allah tidak memiliki kasih, maka Ia tak perlu menciptakan para mahluk terutama manusia yang Ia tahu akan membangkang atau membiarkan kita tanpa pemeliharaan-Nya atau membiarkan kita memikul dosa-dosa kita dan tidak perlu repot-repot melakukan penebusan.

Sobat Teruna, saat ini kita hidup pada cuaca toleransi yang amat buruk di mana kita berkali-kali menelan pil pahit ketidak-adilan. Wajah bangsa kita tercoreng oleh kasus-kasus diskriminasi yang semakin menjamur dan kita dipaksa mengalah pada situasi ini. Di sinilah kasih Allah harus dihadirkan, karena kita dibuat segambar dan serupa dengan Allah. Memang sulit mengasihi ketika tertindas, tetapi mari melihat pribadi Yesus yang rela tertikam dan mati untuk kita. Mari, biarkan dunia sekitar kita mengenal karakter Allah melalui sikap, tindakan, dan keputusan kita sehari-hari yang didasari oleh kasih.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Mengenal kasih-Mu yang berlimpah, ya Allah, adalah harta terindah dalam hidupku. Bangkitkan aku dari kubur kekalahan dan keputusasaan dan menunjukkan kuasa kebangkitan Putera-Mu kepada sesamaku sebagai pribadi yang telah dibaharui oleh kasih-Mu dan mengenal kasih itu