KETIKA AYUB SAKIT

Ayub 2:1-8, Ayub 2;9-13

1 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap Tuhan. 2 Maka bertanyalah Tuhan kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” 3 Firman Tuhan kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” 4 Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. 5 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” 6 Maka firman Tuhan kepada Iblis: “Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.” 7 Kemudian Iblis pergi dari hadapan Tuhan, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. 8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. 9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” 10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. 11 Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. 12 Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13 Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Tak ada yang meragukan kesalehan Ayub. Tuhan bahkan memujinya di hadapan Iblis. Di mata Tuhan, Ayub adalah hamba yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ayat 3). Karena kesalehan Ayub pula, Tuhan dan Iblis bertaruh. Iblis meminta kuasa untuk menimpakan penyakit dan berbagai penderitaan kepada Ayub dan Allah mengizinkannya. Namun tidak menyerahkan nyawa Ayub ke tangan Iblis (ayat 4-7, bandingkan dengan Ayub pasal 1:12). Lalu kemalangan pun menimpa Ayub. Setelah kehilangan harta benda dan anak-anaknya, Ayub mengalami penyakit borok yang gatal dan berbau dari ujung kaki hingga ujung kepala. (ayat 7-8, bandingkan dengan Ayub pasal 1: 13-19). Istri Ayub menjadi kesal melihat penderitaannya, lalu menyindir kesalehan Ayub kepada Tuhan. Tapi Ayub memberikan jawaban, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”. Sikap Ayub tersebut, menunjukkan karakter pribadinya yang rendah hati, hingga ikhlas menerima pemberian Allah baik atau pun buruk, dan tidak menyalahkan Allah ketika mengalami penderitaan. Karakter inilah yang membuat Ayub akhirnya mendapat pemulihan dari Allah dan hidupnya diberkati (Ayub 42:7-17).

Sobat Teruna, iblis sangat memahami kelemahan manusia. Ketika kita kehilangan sesuatu yang kita kasihi dan banggakan (harta dan orang-orang terkasih), mungkin kita bisa ikhlas. Tapi keikhlasan kita akan teruji, jika kita sendiri yang mengalami penderitaan, misalnya ditimpa sakit berat seperti Ayub. Mungkin saat ini, ada di antara kita yang mengalami sakit parah, atau bahkan tak bisa disembuhkan. Mungkin sulit menerima dengan ikhlas sakit tersebut. Tapi kita bisa mengingat kisah Ayub, untuk membuat kita ikhlas menghadapi sakit yang kita derita.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Bapa Mahakasih, karuniakanlah aku kerendahan hati seperti Ayub, agar aku memiliki keikhlasan dalam menghadapi berbagai penderitaan, dan tetap beriman pada-Mu.