MENGHADAPI KETAKUTAN

2 Raja-Raja 19:1-2, 2 Raja-Raja 19:4-7

1 Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan. 2 Disuruhnyalah juga Elyakim, kepala istana, Sebna, panitera negara, dan yang tua-tua di antara para imam, dengan berselubungkan kain kabung, kepada nabi Yesaya bin Amos

4 Mungkin Tuhan, Allahmu, sudah mendengar segala perkataan juru minuman agung yang telah diutus oleh raja Asyur, tuannya, untuk mencela Allah yang hidup, sehingga Tuhan, Allahmu, mau memberi hukuman karena perkataan-perkataan yang telah didengar-Nya. Maka baiklah engkau menaikkan doa untuk sisa yang masih tinggal ini!” 5 Ketika pegawai-pegawai raja Hizkia sampai kepada Yesaya, 6 berkatalah Yesaya kepada mereka: “Beginilah kamu katakan kepada tuanmu: Beginilah firman Tuhan: Janganlah engkau takut terhadap perkataan yang kaudengar yang telah diucapkan oleh budak-budak raja Asyur untuk menghujat Aku. 7 Sesungguhnya, Aku akan menyuruh suatu roh masuk di dalamnya, sehingga ia mendengar suatu kabar dan pulang ke negerinya; Aku akan membuat dia mati rebah oleh pedang di negerinya sendiri.”

Hizkia terpilih menjadi raja Yehuda saat berusia 25 tahun. Meski masih muda, Hizkia memerintah dengan takut akan Tuhan, seperti Daud, bapa leluhurnya. Dialah raja Yehuda yang menghancurkan tiang-tiang berhala dan patung ular tembaga yang dibuat Harun dan masih disembah orang Israel. Alkitab mencatat, Hizkia menjadi satu-satunya raja Yehuda yang tidak menyimpang dari jalan Tuhan (2 Raja-Raja 18:1-12). Di bawah kepemimpinan Hizkia, kerajaan Yehuda menjadi besar, jauh melebihi kerajaan Israel yang dipimpin oleh Hosea. Namun Hizkia menjadi gentar, ketika mendengar kabar kejatuhan kerajaan Israel ke tangan bangsa Asyur. Itu sebabnya, ketika Sanerib, raja Asyur, mengirim utusan untuk menyampaikan ancaman akan merebut kerajaan Yehuda, Hizkia menjadi takut. Namun bukannya mempersiapkan pasukan untuk berperang, Hizkia justru menghadapi ketakutannya dengan berdoa kepada Tuhan. Dia juga mengirim utusan kepada Nabi Yesaya, untuk meminta petunjuk Tuhan, tentang bagaimana menghadapi serangan raja Asyur (ayat 1-4). Sikap Hizkia tersebut, menunjukkan karakternya yang rendah hati, sehingga tidak mengandalkan diri sendiri saat menghadapi ancaman atau tantangan, melainkan mengandalkan Tuhan. Karakter inilah yang membuat Tuhan meluputkan kerajaan Yehuda dari serangan raja Asyur. Tentara Asyur dibunuh oleh malaikat Tuhan, bahkan raja Asyur terbunuh oleh anaknya sendiri (ayat 6-7, ayat 32-37).

Sobat Teruna, ada kalanya kita panik akibat ketakutan, entah karena ancaman dari geng atau sekolah yang jago tawuran, atau saat menghadapi ujian mata pelajaran yang sulit di sekolah. Dalam kepanikan, kerap kita sibuk memikirkan berbagai solusi untuk menghadapi ancaman, hingga melupakan peran Tuhan. Tapi lewat sosok Hizkia, kita belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap persoalan hidup, karena solusi yang diberikan-Nya, selalu melegakan.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Tuhan, karuniakanlah aku kerendahan hati seperti Hizkia, agar aku tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan kuasa-Mua dalam menghadapi ketakutan dan berbagai masalah.