BIJAK 1: JUJUR SAYA ORANG BERDOSA

10 Jun 2018

 

 

Lukas 7 : 36-40

 

36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

 

Kebanyakan kita menyalahkan orang lain daripada jujur menyatakan kesalahan diri. Seringkali juga pernyataan itu kita lakukan dengan “menunjuk” orang yang kita nilai bersalah tersebut. Sesunggguhnya makna “menunjuk” (jari terlunjuk mengarah ke orang lain dan tiga jari: jari tengah, jari manis dan kelingking mengarah kepada diri sendiri) adalah mengarah kepada diri kita. Persoalannya adalah bukan pada benar atau salahnya, namun apakah kita juga jujur atas perilaku dan sikap yang kita perbuat dengan menyalahkan orang lain.

 

Perempuan berdosa yang datang menyeka kaki Yesus dengan rambutnya merupakan bukti pengakuan jujur orang yang sadar akan dosanya. Tanpa ada yang menyuruhnya datang kepada Yesus. Ia tidak takut dan malu berjumpa dengan Yesus dan orang yang diundang makan di rumah orang Farisi tersebut. Baginya, ia harus menemui Yesus dan mengaku bahwa dirinya berdosa. Tangisannya menjadi bukti dirinya menyadari akan dosanya.

 

Dalam usia kita saat ini, jujur menjadi suatu yang sangat sulit kita katakan. Apalagi jika ada perbuatan yang salah. Kecendrungan menyalahkan teman atau orang lain daripada jujur menyatakan sebenarnya. Ada rasa takut dan malu jika kita mengatakan yang sebenarnya. Kita diejek teman, menerima hukuman atas perbuatan yang dilakukan dan banyak alasan sehingga kita tidak jujur.

 

Teruna bijak adalah teruna yang jujur dan berani menyatakan kebenaran atas segala perbuatan yang dilakukan. Siap menerima konsekuensi atas perbuatan

 

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Tuhan saat ini aku mau jujur dengan apa yang telah saya perbuatan dan lakukan. Ampuni aku, Tuhan.

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon