FORGIVENESS IS THE ATTRIBUTE OF THE STRONG

18 Jun 2018

 

 

I Samuel 24:1-16

 

Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu gunung di En-Gedi. Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi.” 3 Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan. Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.” Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya. Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: “Tuanku raja!” Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah. 10 Lalu berkatalah Daud kepada Saul: “Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu? 11 Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa Tuhan sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan. 12 Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 13 Tuhan kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, Tuhan kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; 14 seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. 15 Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja! 16 Sebab itu Tuhan kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu.”

 

Suatu sore di kota Medellin, negara Kolumbia, Didier menemani ibunya berjualan di pinggir jalan. Sore itu adalah pertemuan terakhir bocah berusia 11 tahun itu dengan sang ibu, karena 38 tembakan dari senjata api seorang pria tak dikenal menghujani tubuh ibunya. Didera oleh rasa kecewa, marah dan trauma, Didier jatuh ke dunia alkohol, obat-obatan dan bahkan terlibat dalam berbagai aksi kejahatan. Selama empat tahun Didier bergumul untuk menemui si pembunuh. Didier mengumpulkan senjata api untuk membalas dendam. Namun, akhirnya Didier mengenal Allah lewat persekutuan sebuah gereja. Didier disadarkan bahwa kebencian yang ia pupuk sangatlah tidak baik.

 

Pengampunan adalah konsep paling indah di dalam kekristenan. Hal ini bisa kita lihat dalam diri Daud. Ketika Saul ada di dalam gua untuk membuang hajat, Daud tidak menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Saul, betapa pun sengsaranya dia. Daud hanya memotong tali jubah Saul dan melarang anak buahnya untuk menyerang Saul. Didorong oleh keberanian dari Tuhan, ia bahkan menghampiri Saul guna menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi sambil berlutut dan sujud menyembah. Daud mampu melakukan itu karena ia memiliki relasi yang akrab dengan Tuhan.

 

Ketika kita dimusuhi, bagaimana respons kita? Kita tentu ingin segera membalas, apalagi jika nama baik kita tercemar, kita menjadi bahan gosip atau bahkan ada yang ingin mencelakakakn kita. Penting sekali kita memelihara relasi dengan Tuhan agar kita dapat mengampuni. Kita juga harus mau mengambil inisiatif pertama untuk memberikan penjelasan dan berdamai dengan orang yang memusuhi kita karena Allah sudah mengampuni kita melalui Yesus Kristus.

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Ya Tuhan, kiranya kasih-Mu yang agung dan kekal itu terus mengalir dalam hidupku agar aku diingatkan bahwa bukan saja aku telah diampuni melainkan juga dapat mengampuni orang lain. Aku tak dapat melakukan semua ini melalui usahaku sendiri yang rapuh, maka biarlah Engkau saja yang menguatkan dan memampukan aku untuk melakukannya.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon