MAZMUR GUBAHAN BAGI ALLAH

Mazmur 42:1-6

1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. 2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” 5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. 6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah nyanyian yang digubah oleh keturunan Korah, yang pada saat itu di antara seluruh keturunan Lewi, keturunan Korah dikhususkan sebagai pemimpin puji-pujian Israel kuno. Mazmur bacaan kita hari ini membawa sebuah emosi yang merdu yang menggambarkan bagaimana intimnya hubungan manusia -dalam hal ini pemazmur- dengan Allah, saat dirinya memiliki kedekatan dan kebergantungan mutlak kepada Allah, layaknya rusa yang tidak bisa hidup tanpa air.

Bagaimana dengan kita, dekatkah kita kepada Allah? Seberapa dekat dan seberapa bergantungkah kita kepada Allah? Manusia-manusia modern sudah belajar untuk mandiri, dan pada umumnya akan mengandalkan segala kemandiriannya dalam segala aspek kehidupannya. Salah? Tidak juga, namun menurut Bani Korah, hal tersebut adalah sia-sia. Karena yang melegakan dan memuaskan hati, adalah kebergantungan mutlak kepada Allah.

Tidak ada yang salah dengan belajar, tidak salah menjadi pintar dan juara kelas, tidak salah menjadi mandiri dan sukses, tapi melalui nyanyian bani Korah, kita mau diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki saat ini tidak akan pernah terlepas dari anugerah Allah. Pada saat kita memahami segala pencapaian kita adalah anugerah Allah, pada saat itulah kita memiliki kebergantungan mutlak pada-Nya, dan pada saat bersamaan itulah juga memiliki pengalaman yang intim bersama Allah. Sudah siap menggubah mazmur pujian bagi Allah?

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Aku rindu untuk menggubah mazmur pujian bagi-Mu, Tuhan. Ajarku tetap peka merasakan dan mengalami pengalaman pribadi yang intim bersama-Mu.