IRI HARI MEMBUTAKAN PERBUATAN

4 Aug 2018

 

 

Kejadian 4:1-9

 

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.” Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhanmengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” 8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman Tuhan kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

 

“Kakak menghabisi nyawa adik”. Bagaimana reaksi kita ketika mendengar pernyataan tersebut. Ada kakak yang tidak menyayangi adiknya. Kakak seharusnya menjaga adik, bukan mencelakakannya. Kejadian 4:1-9 menceritakan perihal Kain membunuh adiknya, Habel. Tindakan miris dilakukan Kain. Mengapa Kain tega melakukannya? Hal sepele. Korban persembahan yang dipersembahkan Kain tidak diindahkan (baca: diterima) Tuhan. Sedangkan korban persembahan Habel diindahkanTuhan. Inilah yang membuat hati Kain panas dan mukanya muram (ay.6).

 

Hati panas membutakan perbuatan Kain. Dia menyusun rencana untuk mencelakakan Habel (ay 8). Perbuatan yang tidak disadari karena “gelap mata”. Kain iri hati kepada Habel. Sesungguhnya Kain tidak belajar dari persembahan Habel. Habel memberi yang terbaik untuk Tuhan. Anak sulung kambing domba yakni lemak-lemaknya dipersembahkan Habel. Sedangkan Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah yang diperolehnya. Jadi bukan kesalahan Habel. Habel menjadi korban atas iri hati Kain menyangkut korban persembahan.

 

Sobat Teruna, Tuhan menginginkan kita memberikan yang paling terbaik dari diri kita. Diterima atau tidak, itu adalah hak Tuhan. Kita tidak boleh panas dan iri hati karena penolakan. Dalam perjalanan hidup selaku teruna, penolakan mungkin akan kita alami. Ada yang tidak suka dengan hasil yang kita kerjakan. Belajar dari cerita Kain dan Habel, kita tidak boleh cepat panas hati dan marah. Semua tindakan itu justru merugikan diri sendiri. Tetaplah menjadi teruna yang bersyukur atas apa pun yang terjadi. Karena iri hati hanya membutakan perbuatan yang pada akhirnya membawa kita pada tindakan yang sangat merugikan diri sendiri. Lebih baik memperbaiki dan terus menjadi lebih baik. Kuasai diri supaya tidak panas hati yang membutakan perbuatan.

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Kristus, janganlah aku mudah dikuasai hati panas yang dapat membutakan perbuatanku.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon