ENERGIKU UNTUK FOKUS PADA-NYA

22 Aug 2018

 

 

Keluaran 34:1-9

 

1 Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan. Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu. Tetapi janganlah ada seorang pun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorang pun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapi pun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu.” Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. Turunlah Tuhan dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama Tuhan. 6 Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah serta berkata: “Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.”

Apa yang akan kita lakukan saat melihat kehidupan orang yang jahat bahkan licik mengalami keberhasilan? Pastinya kita akan mengeluh atau menggerutu kepada Allah dengan bertanya “Mengapa mereka yang jahat justru hidupnya berhasil?” Atau mungkin kita mulai mempertanyakan “Dimanakah keadilan Allah?”

 

Daud menuliskan Mazmur ini dalam konteks di mana banyak orang jahat yang hidupnya tenang seperti terbebas dari hukuman sementara banyak orang yang hidup takut akan Allah mengalami ketidakadilan akibat kejahatan orang-orang yang jahat tersebut. Pemazmur Daud memberikan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi diatas; yaitu 1) Jangan marah dan iri hati ketika melihat orang jahat yang hidupnya bahagia. Kata “jangan marah” kalau kita lihat bahasa aslinya adalah ”jangan menjadi panas.” Jangan menjadi panas dan iri hati agar tidak terpancing berbuat dosa. 2) Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik. Artinya tetap fokuskan kehidupan kita dengan setia melakukan kehendak Tuhan daripada terpancing melakukan yang jahat, maka percayalah berkat Allah akan datang tepat pada waktu-Nya. 3) Bergembiralah karena Tuhan. Bergembira dalam bahasa aslinya (Ibrani) artinya adalah bangga terhadap sesuatu hal sehingga menjadi berani untuk bertindak. Jadi ketika kita “bergembira karena Tuhan artinya kegembiraan kita adalah di dalam Tuhan saja, yaitu jika kita benar-benar mengejar hal-hal yang disukai Allah. Hanya di dalam Tuhanlah kegembiraan kita akan menemui bentuknya yang paling sejati.

 

Sobat Teruna, jangan menghabiskan energi kita dengan kemarahan dan iri hati terhadap keberhasilan hidup orang yang jahat; tetap fokuskan arah langkah kehidupan dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Percayalah Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya.

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Ya Tuhan, jadikanku pribadi yang tidak pernah marah dan iri terhadap keberhasilan hidup orang yang jahat.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon