KARENA NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA

1 Samuel 13 : 15-18

15 Kemudian berangkatlah Samuel dan pergi dari Gilgal ke Gibea Benyamin. Tetapi Saul memeriksa barisan rakyat yang ada bersama-sama dengan dia itu: kira-kira enam ratus orang banyaknya. 16 Saul dan Yonatan, anaknya, dan rakyat yang ada bersama-sama dengan mereka, tinggal di Geba-Benyamin, sedang orang Filistin berkemah di Mikhmas. 17 Maka keluarlah orang-orang penjarah dari perkemahan orang Filistin dalam tiga gerombolan: gerombolan yang satu mengambil jalan ke Ofra, ke daerah Syual; 18 gerombolan yang kedua mengambil jalan ke Bet-Horon, dan gerombolan yang satu lagi mengambil jalan ke perbatasan yang menghadap ke lembah Zeboim arah ke padang gurun.

““Maaf ya, Dwi.” Tri hampir tidak berani memandang wajah teman akrabnya itu. “Kita berteman sudah lama, Tri. Aku enggak menyangka kamu bicara seperti itu tentangku.”, Wajah Dwi merah padam karena marah dan kecewa. Ia masih ingat betul candaan Tri di kelas tentang berat badannya dan tawa yang lainnya saat jam istirahat. Dwi melanjutkan,“Teman baik mestinya enggak bicara seperti itu.” Tri menyesal sekali. Ia tidak menyangka sepotong celetukannya telah membuat hati temannya itu terluka. Ia tidak mengira pertemanannya akan rusak karena perbuatan yang tidak ia pikirkan konsekuensinya itu.

Apa yang disampaikan Samuel sebagai hukuman atas Saul mulai terwujud. Pasukan Filistin telah menguasai Mikhmas dan mengirimkan pasukan-pasukan penjarahnya untuk mengepung Israel (ayat 16-18). Saul dan pasukannya berada dalam keadaan yang sangat berbeda sebelumnya (ayat 2). Dulu, Saul memiliki dua ribu orang bersamanya menduduki Mikhmas. Sekarang, ia hanya mempunyai 600 orang bersamanya dan ia tidak lagi menduduki Mikhmas. Kerajaan Israel benar-benar terancam akibat ketidaktaatan Saul.

Sobat Teruna, seringkali sifat egois kita membuat kita tidak memikirkan konsekuensi tindakan dan perkataan kita. Tri tidak memikirkan perasaan sahabatnya ketika ia mengejeknya. Begitu juga, Saul saat ia melanggar perintah Tuhan. Persahabatan Tri dan Dwi rusak. Pemerintahan Saul berakhir. Mari kita belajar untuk tidak menuruti sifat egois kita. Mari kita belajar untuk berpikir lebih dulu -apakah ini sesuai kehendak Tuhan- sebelum kita bertindak.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan, ampuni aku ketika aku bertindak semauku tanpa berpikir panjang. Tolong aku untuk berpikir sebelum bertindak maupun berkata-kata. Tolong aku untuk berpikir, apakah ini sesuai kehendak-Mu atau tidak, sebelum memutuskan sesuatu.