KETIKA DIKHIANATI

II Samuel 15:24-31

24 Dan lihat, juga Zadok ada di sana beserta semua orang Lewi pengangkat tabut perjanjian Allah. Mereka meletakkan tabut Allah itu -- juga Abyatar ikut datang -- sampai seluruh rakyat dari kota selesai menyeberang. 25 Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya. 26 Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.” 27 Lagi berkatalah raja kepada Zadok, imam itu: “Jadi, engkau dan Abyatar, pulanglah ke kota dengan selamat beserta anakmu masing-masing, yakni Ahimaas anakmu dan Yonatan, anak Abyatar. 28 Ketahuilah, aku akan menanti di dekat tempat-tempat penyeberangan ke padang gurun, sampai ada kabar dari kamu untuk memberitahu aku.” 29 Lalu Zadok dan Abyatar membawa tabut Allah itu kembali ke Yerusalem dan tinggallah mereka di sana. 30 Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis. 31 Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: “Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,” maka berkatalah Daud: “Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya Tuhan.”

Sifat Daud jauh berbeda dengan Absalom yang mementingkan kemauannya sendiri. Ketika Daud mengetahui bahwa Absalom telah merebut hati Israel, ia memutuskan untuk melarikan diri bersama bawahan setianya meninggalkan Yerusalem. Daud lari bukan karena takut pada Absalom. Ia tidak pula merencanakan serangan pada Absalom. Daud sadar, ini adalah hukuman yang Tuhan berikan atas dosa yang telah ia perbuat dulu (2 Samuel 12:10). Ia tidak ingin Yerusalem hancur jika terjadi peperangan dengan Absalom dan anak buahnya (ayat 13-14). Daud melarang Ittai, orang asing yang tidak ada kaitan dengan konfliknya, mengikutinya supaya tidak terseret dalam bahaya (ayat 19-20). Ia juga tidak ingin tabut perjanjian Allah dibawa keluar Yerusalem untuk menjadi jaminan perlindungannya. Ia memerintahkan Imam Zadok dan Abyatar untuk tetap berada di Yerusalem (ayat 24-29). Bahkan, ketika ia dikhianati Ahitofel, ia tidak mendoakan agar Ahitofel mendapat celaka (ayat 30-31).

Sobat Teruna, hati kita tentu terluka jika kita dikhianati orang terdekat kita. Mungkin saja respons pertama kita adalah ingin membalas untuk menyakiti orang tersebut atau bahkan mendoakan hal yang buruk atas mereka. Sepertinya, kita lebih puas jika bisa melihat mereka yang telah melukai kita juga terluka. Jika bisa, bahkan lebih parah. Berkaca dari Daud, mari kita belajar untuk tidak memaksakan keinginan kita dengan membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam pelariannya dan perasaannya yang terluka, Daud mencari Allah dan merendahkan dirinya di hadapan Allah. Ia bahkan masih memikirkan keselamatan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tolong aku supaya punya hati yang tulus seperti Daud. Yang tidak mengikuti keinginan untuk membalaskan sakit hati, melainkan mencari pertolongan Allah.