MAKNA MASA LALU

8 Oct 2018

 

 

 

Kejadian 41:46-52

 

 

46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” 52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”

 

Kenangan masa lalu yang pahit biasanya ingin dilupakan. Kalau teringat bisa membangkitkan kemarahan dan luka di hati. Namun ada juga orang yang menjadikan masa lalu sebagai sarana untuk belajar lebih baik dan lebih bijaksana.

 

Yusuf memiliki masa lalu yang pahit dan kelam. Ia mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang begitu hebat. Ia seorang anak kesayangan ayahnya dan selalu menerima yang terbaik dari ayahnya. Tetapi keadaan terbalik ketika ia dijual oleh saudara-saudaranya ke orang Ismael yang kemudian membawanya ke Mesir. Yusuf sangat sedih, terluka, takut, hidup dalam ketidakpastian, namun ia tidak larut dalam kesedihan penderitaannnya. Ia bangkit dan memulai kehidupannya, merangkak dari bawah. Dengan tabah dan tekun, ia menjalani berbagai pengalaman pahit. Ia berusaha hidup di jalan Tuhan: jujur, tekun, setia, terhormat. Cara hidupnya ini membuatnya disukai oleh orang lain dan Tuhan memberkatinya. Sampai pada akhirnya Yusuf tiba di puncak keberhasilan dalam hidupnya, yaitu menjadi orang kedua di Mesir, berkeluarga dan memiliki anak-anak.

 

Nama anak-anak Yusuf adalah refleksi perjalanan hidup Yusuf di Mesir yang penuh dengan kesengsaraan, tetapi Allah memberkatinya dengan mengaruniakan kedudukan, keluarga dan anak-anak. Manasye: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku”. Efraim: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku”. Dalam puncak keberhasilannya, ia tetap mengingat masa lalunya. Nama anak-anaknya adalah wujud syukur hati Yusuf kepada Allah yang memelihara dan memberkati hidupnya. Bagaimana kita memaknai masa lalu yang pahit? Apakah masa lalu menjadi sarana belajar untuk hidup semakin bijaksana atau sebaliknya? Belajarlah dari Yusuf.

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Ya Tuhan, terima kasih untuk semua pengalaman buruk di masa lalu, melaluinya aku belajar untuk hidup lebih baik dan bijaksana.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon