SIKAPI PENOLAKAN DENGAN BAIK

I Samuel 12:1-5

1 Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: “Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. 2 Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. 3 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan Tuhan dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu.” 4 Jawab mereka: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun.” 5 Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Tuhan menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku.” Jawab mereka: “Dia menjadi saksi.”

Paulo Coelho seorang penulis asal Brazil berkata “Penolakan itu bukan suatu masalah. Bagaimana kita menghadapi penolakan itu adalah lebih penting”. Pernyataan di atas mau mengatakan bahwa mengalami penolakan itu bukan sebuah masalah besar karena yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi dan menghadapi penolakan itu. Belajar menyikapi bahkan menghadapi penolakan dengan cara yang benar.

Sobat Teruna, hari ini kita belajar dari Samuel yang secara tidak langsung mengalami penolakan ketika bangsa Israel meminta seorang Raja. Padahal selama ini semua berjalan baik meskipun hanya dipimpin oleh seorang nabi. Bagaimana cara Samuel menyikapinya? Pertama, ia tetap mengabulkan permintaan bangsa itu dengan memberikan raja. Inilah hal hebat dari Samuel ketika mengalami penolakan. Ia justru mempersiapkan orang yang akan menggantikannya sesuai dengan kemauan bangsa Israel. Kedua, ia pamit mengundurkan diri setelah ada raja yang telah disiapkannya dengan memberikan nasehat agar bangsa itu tetap setia kepada Allah. Keunikan dari nasehat Samuel saat mengajak bangsa itu untuk setia dimulai dengan mengajak bangsa itu menilai pelayanan yang telah dilakukannya. Ketika bangsa Israel telah menilai dan mengatakan bahwa Samuel selalu setia melaksanakan tugasnya; maka Samuel membawa bangsa itu untuk menyadari jika dirinya tidak pernah melakukan kesalahan mengapa mereka meminta seorang raja. Dari situasi inilah Samuel masuk untuk menyadarkan mereka bahwa permintaan mereka untuk memiliki raja adalah sebuah dosa besar. Mengapa? Karena hal itu sebuah penolakan kepada Allah yang selama ini sebagai Raja atas kehidupan mereka.

Mengalami penolakan tidaklah mudah. Dibutuhkan ketegaran dan kebijaksanaan. Hal ini hanya bisa kita miliki ketika kita memiliki ketekunan doa bersama Tuhan seperti Samuel.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Berikan aku kemampuan agar bisa menyikapi penolakan bersama-Mu, ya Tuhan.

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon