PANJANGKANLAH UMURKU


Yesaya 38:1-8

1 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: “Beginilah firman Tuhan: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” 2 Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada Tuhan. 3 Ia berkata: “AhTuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. 4 Maka berfirmanlah Tuhan kepada Yesaya: 5 “Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman Tuhan, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, 6 dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini. 7 Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: 8 Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya.” Maka pada penunjuk matahari itu matahari pun mundurlah ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalaninya.

Gue belum kawin. Gue gak mau mati sekarang.” “Gue belum punya pacar. Rugi amat mati muda.” Nah…sering mendengar ungkapan seperti itu? Ya, inilah candaan kekinian orang tidak mau mati. Lebih mudah menyampaikan alasan yang bersifat duniawi ketimbang alasan yang lebih bermakna bukan? Namun, bolehkah menolak kematian atau tidak mau mati? Mari kita renungkan kisah raja Hizkia. Raja Hizkia adalah raja yang baik dan hebat. Ia muda, namun berhasil membuat Yehuda menjadi negara yang baik; secara politik, ekonomi dan keagamaan.

Raja Hizkia sadar posisi Allah bagi dirinya, negara dan bangsanya agar diberkati (baca 2 Tawarikh pasal 29-32). Hingga Allah berkenan Hizkia jatuh sakit dan melalui nabi Yesaya disampaikan bahwa ia akan mati (ay. 1). Hizkia amat sedih… Konon, Hizkia jatuh sakit setelah serangan raja Asyur yang membuat Yerusalem terkepung. Dalam doa dan ratapan, ia memohon Allah mempertimbangkan rencana-Nya. Kehidupan yang ia jalani dalam Tuhan, ia bentangkan (ay. 3). Hizkia saat itu menjelang 40 tahun saat dikatakan akan mati. Dia seorang raja. Yerusalem dalam kondisi terkepung. Kira-kira apa alasan Hizkia belum mau mati? Rasanya bukan sekadar alasan duniawi, tetapi manusiawi. Bahkan mungkin lebih dari itu, mengingat kehidupannya yang selalu mengandalkan Tuhan. Dan Allah memperhatikan. Hizkia sembuh, umurnya diperpanjang 15 tahun. Yehuda pun diselamatkan dari musuh dan bertambah kesejahteraannya (ay. 4-6).

Sobat Teruna, apa pun bisa kita minta kepada Tuhan Allah; kesembuhan, kecukupan, teman hidup, panjang umur. Namun, jangan lupa, Tuhan melihat hidup kita. Mari kita bentangkan hidup kita di hadapan Allah. Ia mau kita selalu melakukan kehendak-Nya.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Bapa di surga, aku mau seperti Hizkia yang tidak takut datang kepada Tuhan karena mau melakukan perintah-Mu.