ALLAH YANG HIDUP DAN LAWANNYA


1 Raja-Raja 18 : 20-35

20 Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. 21 Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun. 22 Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: “Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi Tuhan, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. 23 Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Aku pun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. 24 Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan aku pun akan memanggil nama Tuhan. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!” 25 Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: “Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api.” 26 Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: “Ya Baal, jawablah kami!” Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. 27 Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” 28 Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. 29 Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian. 30 Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: “Datanglah dekat kepadaku!” Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah Tuhan yang telah diruntuhkan itu. 31 Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. -- Kepada Yakub ini telah datang firman Tuhan: “Engkau akan bernama Israel.” -- 32 Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama Tuhandan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. 33 Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. 34 Sesudah itu ia berkata: “Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!” Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk kedua kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, 35 sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itu pun penuh dengan air..

Dalam hidup, kita sering diperhadapkan dengan 2 pilihan. Ya atau tidak. Tidak ada pilihan yang di tengah atau abu-abu. Bahkan untuk memilih keduanya pun rasanya tidak mungkin. Kita harus memilih salah satu sebagai pilihan yang akan kita jalani. Karena kalau kita memilih pilihan lebih dari satu maka salah satunya tidak akan maksimal.

Pilihan ini juga diberikan Elia sebagai tantangan kepada orang Israel untuk memilih Baal/patung atau Tuhan. Tidak ada yang bisa menyembah pada keduanya karena Allah pencemburu. Elia tidak ingin orang Israel menyembah keduanya. Harus ada pilihan yang jelas. Jangan abu-abu. Situasi hidup orang Israel adalah sebagian menyembah kepada Tuhan dan sebagian menyembah kepada Baal. Tampaknya orang Israel tidak bisa memilih. Karena memilih Allah berarti harus diikuti dengan komitmen yang sungguh untuk tidak berpaling.

Elia menantang mereka dengan mengatur dua persembahan berupa lembu. Mereka mempersiapkan lembu dan tempat bakarannya. Menyiapkan tempat bakaran tetapi tidak menyalakan api. Begitu juga dengan Elia mempersiapkan yang sama tanpa menyalakan api (ay. 23-26). Tantangannya adalah mereka memangil allah mereka dan Elia pun memanggil Allah-nya. Siapa yang menjawab dengan api, dialah Allah! Namun setelah mereka berupaya memanggil allah mereka, bahkan sampai tengah hari tetap tidak ada jawaban. Namun yang terjadi pada Elia justru berbeda, Tuhan menujukkan kuasa-Nya (ay. 38) dengan turunlah api Tuhan. Kesaksian ini memperlihatkan siapakah sesungguhnya Allah yang hidup.

Dari perikop ini, jelas bahwa tidak ada orang yang tahan menyembah pada patung dan Tuhan sekaligus. Kehidupan sebagai orang yang percaya pada Allah yang hidup perlu menujukkan kesetiaan dan cara hidup yang mendatangkan damai sejahtera.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Memiliki hidup dalam kesetiaan kepada-Mu itu yang aku mau. Kuatkan aku ya Tuhan untuk tetap setia.