WAKTU ADA, ADA WAKTU

19 Mar 2019

Imamat 25 : 1-7

 

 1 Tuhan berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi Tuhan. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Tuhan. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

 

 

Siklus tahunan kehidupan di bumi berpengaruh pada aktivitas manusia. Di beberapa daerah, masa panen menjadi meriah karena diagendakan sebagai musim pengucapan syukur atas panen yang berhasil.

 

Sobat Teruna, pembacaan Alkitab hari ini memperkenalkan sebuah tradisi Yahudi yang Allah tetapkan bagi bangsa Israel, yaitu Tahun Sabat di mana dalam tahun ketujuh masa menabur akan menjadi tahun perhentian; tidak ada aktivitas untuk menabur dan menuai di ladang mereka. Apa yang harus dilakukan oleh bangsa Israel di tahun ketujuh ini sama dengan bagaimana mereka memaknai hari Sabat.

 

Dalam kitab Pengkhotbah disampaikan “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Hari ini kita mendapatkan satu hal lagi dari firman Tuhan, yaitu bagaimana kita menyikapi hari-hari kita dan juga menyediakan waktu khusus untuk Tuhan. Selama 24 jam 7 hari dalam seminggu dan 365 hari dalam setahun, kadang kita mengisi waktu-waktu kita dengan begitu banyak kegiatan sehingga kita secara tidak sadar lupa untuk berdiam diri dan berkomunikasi dengan Tuhan.

 

Kalau segala sesuatu ada masanya, berarti kita pun pasti ada masanya untuk menjadi jawaban juga bagi sesama. Kalau kita saja sibuk dengan rutinitas kita, lalu bagaimana caranya kita bisa menjadi jawaban bagi sesama? Let it flow aja… kata orang. Ups! susah juga kalau hanya mengandalkan kata “semengalirnya saja”. Waktu itu selalu ada… hanya saja kita harus bisa membagi waktu kita untuk Tuhan, diri sendiri dan juga sesama. Caranya? Tentu saja dengan mengawali hari dengan bersekutu dengan Tuhan Sang Sumber Hikmat. Jadi, sobat Teruna… adakah waktu untuk Tuhan dan sesama? Pasti ada!

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

 

Bapa yang baik, Engkaulah Sumber kehidupanku. Mampukan aku untuk selalu mengisi waktuku dengan-Mu dan menjadi jawaban bagi sesama.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon