PEMIMPIN YANG RENDAH HATI


Yohanes 13 : 1-11

1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” 7 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” 8 Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” 10 Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.”


Nama Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte menjadi viral beberapa waktu saat dirinya menumpahkan kopi di lantai, lantas berinisiatif membersihkannya sendiri dengan kain pel. Kehidupannya sebagai politikus rupanya membuatnya tetap rendah hati. Akibat tindakan membersihkan lantai tersebut, Rutte langsung mendapat pujian dan disebut sebagai simbol etika dan kerendahan hati, karena di Belanda tindakannya itu dianggap tidak lazim untuk seorang pejabat negara. Bahkan Rutte masih menyempatkan diri untuk hadir selama satu jam setiap minggu di sekolah distrik miskin di Den Haag. Mantap deh


Sobat Teruna, kisah pembasuhan kaki murid-murid hanya dicatat dalam Injil Yohanes. Namun pada ayat paralel di Lukas 22, dikisahkan ketika Yesus sedang menikmati perjamuan malam terakhir dengan murid-murid-Nya dan memberitahu bahwa seorang di antara mereka akan menjadi pengkhianat, murid-mudir yang lain justru sedang mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Tindakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya adalah untuk menngajarkan kerendahan hati, selain dengan perkataan namun juga dengan tindakan. Yesus tidak hanya berkata tentang kasih, tapi juga menyampaikan pesan agar para murid-Nya dapat saling melayani dalam kerendahan hati.


Hari ini adalah hari Pemilihan Umum, sebuah pesta demokrasi di Indonesia. Bangsa Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kota/Kabupaten. Yesus telah menjadi contoh bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang rendah hati, pemimpin yang bukan hanya mampu berkata tetapi juga menjadi contoh. Jikalau sobat Teruna sudah memiliki hak pilih, maka berdoalah dan minta pimpinan agar Roh Kudus untuk memberi hikmat dalam memilih seorang pemimpin bangsa yang rendah hati dan senantiasa konsisten menjadi contoh bagi seluruh rakyat Indonesia.


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Bapa, ajarlah aku senantiasa untuk tetap rendah hati. Bapa, berkatilah proses pelaksanaan pemilihan suara pada hari ini agar berjalan dengan baik, untuk menghasilkan pemimpin rendah hati, bijaksana dan dapat menjadi contoh bagi rakyat Indonesia.