AKU ADALAH ALAT DAMAI SEJAHTERA BAGI SESAMAKU

1 May 2019

 

Kejadian 18 : 1-8

1 Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. 2 Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, 3 serta berkata: “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. 4 Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; 5 biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka: “Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu.” 6 Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!” 7 Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. 8 Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan.

 

 

Tuhan datang menyampaikan berkat berupa berita-sukacita bagi Abraham serta anugerah kehamilan bagi Sarah, isteri Abraham – yang telah puluhan tahun mereka nantikan itu – melalui tiga orang malaikat-Nya, yang pada siang itu hadir ‘menyamar’ bagai orang biasa; yakni sebagai pengelana yang keletihan, kehausan dan kelaparan karena perjalanan jauh di bawah terik mentari wilayah Timur Tengah yang memang sangat menyengat.

 

Mendapati ‘tiga orang musafir’ yang kelelahan saat melewati tempat tinggalnya, Abraham pun dengan ramah menyapa mereka dan mengundang para pengelana itu untuk mau sejenak singgah di kemahnya guna melepas lelah serta berkenan menerima jamuan makan siang yang Abraham dan Sarah, isterinya siapkan.

 

Mempersilahkan sesama yang keletihan, kehausan atau kelaparan untuk beristirahat sejenak serta ikut makan siang bersama atau singgah dan menginap semalam karena perjalanan yang melelahkah, memang merupakan suatu kepatutan atau tata-krama hidup bermasyarakat pada waktu itu, yang asalnya adalah dari kehendak dan perintah Tuhan (band. Lukas 24:28-32). Karena Abraham mengikuti dan menjalani kehendak Tuhan dengan setia, maka keramahan, kepedulian serta keikhlasannya untuk berbagi kepedulian kasih kepada sesama itu pun tidak sia-sia, melainkan membuat Abraham dan Isterinya serta seluruh keluarganya, diberkati oleh Tuhan, dan membawa damai-sejahtera dan kesukacitaan karena pengabulan Tuhan atas doa dan harap mereka.

 

Sobat Teruna, ingat ya bahwa hidup yang jutek (judes dan sinis) dan cuek (tidak peduli) pada lingkungan, sangat tidak Tuhan sukai dan kehendaki. Yang Tuhan kehendaki dari kita adalah hidup yang ramah, peduli pada lingkungan serta mau berbuat kebaikan dan kebajikan untuk menciptakan damai dan juga sukacita di hati dan hidup orang lain (band. Yeremia 29:7).

 

 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Tuhan, tolongku agar tidak bersikap jutek dan cuek pada sesama; sehingga aku pun tidak kehilangan kesempatan untuk berbuat baik pada sesama, sebagaimana yang Tuhan mau.

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon