BELAJAR MENERIMA YANG TIDAK SESUAI KEINGINAN


I Raja-raja 21 : 1-4

1 Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.” 3 Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya Tuhan menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” 4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.


Plato, seorang Filsuf dari Yunani berkata: “Perilaku manusia mengalir dari tiga sumber utama: keinginan, emosi dan pengetahuan. Pernyataan Plato ini berangkat dari realita pengalaman hidup manusia bahwa setiap perilaku manusia pasti disebabkan oleh berbagai keinginan yang dimilikinya. Misalnya ketika keinginannya tidak terpenuhi maka akan menimbulkan perasaan kecewa bahkan bisa mendatangkan emosi. Namun emosi itu bisa melahirkan sikap positif, sangat dipengaruhi juga oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.


Sobat Teruna, bacaan hari ini menceritakan tentang Ahab yang kecewa karena keinginannya tidak tercapai. Ahab memiliki keinginan untuk memiliki kebun anggur yang ada di samping istananya. Kebun anggur itu milik Nabot. Namun, Nabot menolak untuk menjual kebun anggur tersebut. Hal ini dikarenakan Nabot tidak mau melanggar tradisi yang ada; yaitu dilarang untuk menjual warisan dari nenek moyang. Kisah ini menunjukkan pembelajaran dari dua perilaku yang berbeda yaitu 1) Nabot yaitu seorang yang sangat konsisten dalam menjaga tradisi dan aturan yang ada. Ia tidak tergoda oleh materi, karena baginya menjaga tradisi lebih penting; 2) Ahab yaitu seorang yang tidak mampu menerima yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini menunjukkan sebuah perilaku yang tidak mau belajar untuk memahami bahwa tidak semua keinginan yang dimiliki sesuai dengan kehendak Allah.


Bagaimana dengan sobat Teruna? Jika keinginan kita ternyata tidak tercapai apakah kita akan marah atau kecewa seperti Ahab? Atau kita belajar memahami bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Allah agar hidup kita menjadi lebih baik. Ayo, jangan lagi menjadi teruna yang memaksakan keinginanya. Belajarlah untuk menjadikan keinginan Tuhan sebagai keinginan yang terbaik dalam hidup.


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Allah yang baik, berikanku kemampuan untuk selalu memahami kehendak-Mu yang lebih baik dari keinginanku.