KERINDUAN KEPADA-NYA


Nehemia 8: 1-9

1 Ketika tiba bulan yang ketujuh, sedang orang Israel telah menetap di kota-kotanya, 2 maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan Tuhankepada Israel. 3 Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. 4 Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu. 5 Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam. 6 Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri. 7 Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah. 8 Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya. 9 Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia

Rasa rindu sering muncul ketika terdapat jarak ruang dan waktu antara kita dengan seseorang atau kelompok sehingga perjumpaan tidak terjadi. Di dalamnya terdapat dorongan yang kuat untuk segera bertemu. Ada salah satu dialog yang cukup melekat di ingatan anak remaja zaman nowdari film yang berjudul Dilan 1990, “Jangan rindu, berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku saja.” Ungkapan itu hendak mengungkapkan bahwa perasaan rindu adalah suatu hal yang sangat berat untuk ditanggung. Karena terlalu berat, maka si laki-laki mengatakan kepada si perempuan biar dia saja yang menanggungnya. Dalam hal ini keriduan memang dipandang sebagai suatu beban yang cukup berat.


Perikop kita menggambarkan bagaimana umat Allah yang dalam kerinduan datang berkumpul untuk bertemu dengan Allah melalui firman-Nya. Di dalam kerinduan,mereka memperhatikan semua firman Allah yang dibacakan oleh Ezra. Bahkan mereka memuji-muji Allah dengan berlutut serta bersujud hingga ke tanah. Mereka menyadari dengan sungguh bahwa hanya Allahlah tempat perlindungan dan pertolongan mereka. Mereka memandang bahwa Allah adalah tempat penghiburan satu-satunya yang layak untuk dirayakan. Mereka merayakan Allah yang mau bersama-sama berjalan dengan mereka di tengah perjuangan.


Kerinduan kita kepada satu orang atau lebih mungkin merupakan hal yang sudah biasa. Akan tetapi, bagaimana jika kita berbicara tentang kerinduan kepada Allah? Apakah kita pernah mengalaminya? Dalam hal ini kita perlu memahami sejauh mana Allah berarti di dalam kehidupan kita? Kita harus peka terhadap segala karya dan perbuatan-Nya, sehingga dimungkinkan untuk dapat merindukan-Nya. Milikilah kerinduan itu, karena sebenarnya itu merupakan hal yang berharga bahkan suatu hal yang layak dirayakan. (LS)

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini menjadi berkat dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Allahku, hanya kepada-Mulah hati ini aku arahkan agar hidupku selalu berkenan kepada-Mu. Sabda-Mulah yang menjadi bagian terbaik dalam hidupku.