HIDUPKU BERHARGA


Mazmur 8 : 1 - 10

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. 2 Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: 8 kambing domba dan lembu sapi sekalian,juga binatang-binatang di padang; 9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. 10 Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


Dari pelajaran di sekolah maupun artikel pengetahuan, kita tahu betapa luasnya alam semesta. Bumi hanyalah bagian yang sangat kecil dari alam semesta. Bumi yang sangat kecil pun, masih sangat luas jika dibandingkan dengan keberadaan manusia. Namun demikian, Sang Pencipta membuat manusia berkuasa atas alam semesta, bulan, bintang, bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Itu semua karena kita diciptakan sebagai Imago Dei atau segambar dengan Allah. Kitab Kejadian juga menunjukkan bahwa manusia diciptakan setelah semua fasilitas yang diperlukannya ada. Tidak ada dalam sejarah, hewan maupun tumbuhan yang dapat memerintah atau menguasai manusia. Dengan melihat ciptaan dan kuasa-Nya yang sedemikian besar, tak ada pilihan lain bagi kita selain harus tunduk pada-Nya, percaya kuasa-Nya serta memuji keagungan-Nya. Dengan memerhatikan bagaimana manusia yang sangat kecil di alam semesta begitu diperhatikan Tuhan, membangkitkan kesadaran betapa sangat berharganya kita. Mungkin kita bisa membandingkannya dengan pendulang intan di sungai yang memerhatikan, kemudian memunguti butiran-butiran berharga intan di antara butiran pasir atau batu untuk dikumpulkan secara terpisah.


Sobat Teruna, seseorang yang tidak mendapatkan perhatian akan melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan, bahkan sampai melakukan hal-hal yang buruk. Keadaan seperti itu juga akan membuat seseorang kurang memberikan perhatian pada orang lain, karena sibuk mencari perhatian untuk dirinya. Sobat Teruna, kita berharga di mata Sang Pencipta. Hidup yang diberikan-Nya sebagai Imago Dei adalah hidup yang mencerminkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, di awal tahun 2020 ini, ayo berhenti menuntut orang lain memerhatikan kita. Mulailah memerhatikan dan mengasihi orang lain, untuk Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tolonglah aku ya Tuhan untuk tidak lagi menuntut orang-orang di sekitarku menghargai dan memerhatikanku, sebaliknya dirikulah yang memerhatikan dan mengasihi sesamaku.