BERANI BICARA!


Lukas 4 : 20-30

14 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” 22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: ”Bukankah Ia ini anak Yusuf?” 23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: ”Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” 24 Dan kata-Nya lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia

Sobat Teruna, tahukah Jack Ma? Ya, dia adalah pendiri grup Alibaba, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dia dilahirkan dari keluarga miskin. Ayahnya mendapatkan tunjangan pensiun sekitar Rp. 500.000 per bulan untuk menghidupi keluarganya. Dulu, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tidak pernah dianggap oleh orang lain karena mereka tahu kondisi keluarganya. Sekarang bagaimana? Setiap kata-kata yang dikeluarkannya menjadi semacam jimat menuju sukses. Banyak yang membingkai kata-katanya sebagai motivasi mereka. Begitulah kehidupan. Seringkali, orang mendengarkan kita kalau latar belakang status sosial kita sesuai dengan apa yang ada di pikiran mereka.


Tuhan Yesus, anak seorang tukang kayu. Walaupun orang banyak mengetahui siapa dia, Yesus tetap menyampaikan isi Alkitab yaitu apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya. Banyak yang kagum akan perkataan-Nya. Namun, tidak lama kemudian mereka yang ada di rumah ibadat itu menjadi marah dan menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung untuk melemparkan-Nya dari tebing itu.


Sobat Teruna, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memberi respons seperti itu? Sejatinya kita bersyukur ketika ada orang yang menyampaikan firman Tuhan yang bisa menegur dan mengoreksi kita. Marilah kita tidak menjadi teruna yang mengabaikan firman Tuhan, mengabaikan teguran dan koreksi dari Tuhan. Atau apakah kita menjadi terdiam dan tidak mau berbicara ketika terjadi penolakan? Merasa terintimidasi dan akhirnya diam serta tidak berani menyampaikan kebenaran firman Tuhan? Sobatku, mari teruslah berbicara, teruslah sampaikan kebenaran dan teguran walaupun ditolak karena kita sudah diselamatkan supaya kita menyaksikan kebaikan Tuhan tidak hanya melalui tindakan kita tetapi juga setiap firman yang keluar dari mulut kita agar semakin banyak orang yang mengenal Allah dan menyembah-Nya. Bisakah?

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ini aku Tuhan di dalam segala kelemahan dan kekuranganku. Pakai aku untuk menjadi saksi-Mu penyampai kebenaran firman-Mu.