MARI TURUT BERSUKACITA


Yunus 4 : 1 - 5

1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada Tuhan, katanya: ”Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” 4 Tetapi firman Tuhan: ”Layakkah engkau marah?” 5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia



May Day atau Hari Buruh diperingati setiap tanggal 1 Mei. Biasanya May Day diisi dengan aksi unjuk rasa menuntut kelayakan hidup para buruh. May Day bermula dari peristiwa unjuk rasa sebanyak 400.000 buruh di Chicago, Amerika Serikat pada 1 Mei 1886 yang menuntut pengurangan jam kerja (tribunnews.com). Uniknya istilah May Day ini menjadi identik dengan Mayday (ditulis tanpa spasi) yang bermakna tanda bahaya internasional. May Day yang diperingati sekarang disebut Hari Buruh, sering diperlakukan seperti Mayday yang diwarnai dengan tindakan-tindakan unjuk rasa tanpa tujuan yang jelas.


Unjuk rasa yang sama juga ditunjukkan oleh Yunus dalam bacaan Alkitab hari ini. Yunus kecewa dan marah karena Allah batal mendatangkan malapetaka yang dirancangkan-Nya atas Niniwe sebab mereka berbalik kepada-Nya (Yunus 3:10). Dalam doanya Yunus membenarkan dirinya yang sebelumnya melarikan diri ke Tarsis mengingkari perintah Tuhan untuk melakukan tugas kenabiannya ke Niniwe. Dengan bernada sedikit menyindir, dia mengatakan bahwa pada akhirnya Allah menyesal dan membatalkan malapetaka yang akan didatangkan-Nya (ayat 2). Bahkan, Yunus pun membuat pernyataan yang cukup berlebihan dengan meminta Tuhan mencabut nyawanya atas kekesalan yang dirasakannya (ayat 3).


Sobat Teruna, seringkali kita juga bersikap sinis atas pemulihan hidup yang dialami orang lain. Kita lupa bahwa pengampunan dan pemulihan adalah sepenuhnya otoritas Tuhan. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk marah dan kecewa. Jangan sampai Tuhan mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita seperti terhadap Yunus, “Layakkah engkau marah?” Sudah seharusnya kita turut bersukacita atas pemulihan hidup yang dialami oleh teman atau saudara, karena melalui itu semua kasih Tuhan dapat dilihat dengan lebih jelas.




Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, tolong ajarlah aku untuk peduli kepada sesamaku yang terpuruk dan bersukacita karena pemulihan hidup yang terjadi atas mereka.