RUNTUHNYA TEMBOK PEMISAH


Efesus 2 : 11 - 18

11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu – sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ”sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, – 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ”jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang ”dekat”, 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia




Sobat Teruna, pada tanggal 13 Januari 1990, Tembok Berlin (Berliner Mauer) secara resmi dibongkar. Pembongkaran tembok tersebut sekaligus menjadi simbol penyatuan kembali kedua negara yaitu Jerman Timur dan Jerman Barat. Negara Jerman terpisah karena perbedaan ideologi dan politik sejak tahun 1961. Namun demikian, ketika hari pembongkaran itu tiba, kedua masyarakat Jerman menunggu berseberangan di sisi tembok. Lalu pada saat tembok itu benar-benar runtuh, maka terjadilah peristiwa reuni yang mengharukan dari masyarakat kedua negara saudara tersebut.


Kondisi di atas mirip dengan pernyataan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang kita baca hari ini. Sebelum karya kematian dan kebangkitan Yesus, manusia hidup dipisahkan dalam dua golongan, yaitu bangsa Yahudi (umat Israel) yang bersunat dengan yang di luar itu. Di dalam iman kepada Kristus, semua golongan memiliki pengharapan dan damai sejahtera. Karena melalui karya pendamaian-Nya, Dia mempersatukan kedua pihak serta merubuhkan tembok pemisah yang ada (ayat 14). Artinya, di sini bukan lagi latarbelakang budaya YahudiI (Israel) yang menjadi penentu seseorang memiliki pengharapan akan keselamatan atau tidak, melainkan keadaan sebagai manusia baru oleh karya penebusan dan pendamaian Yesus Kristus (ayat 15-16).


Sobat Teruna, tidak ada lagi jurang pemisah yang menghambat kita meraih status sebagai anak-anak Tuhan. Seperti sukacita yang dirasakan oleh rakyat Jerman ketika kembali bersatu, maka kebahagiaan yang sama juga kita alami sebagai umat tebusan Allah. Kita yang dulu tidak berpengharapan, sekarang menjadi memiliki pengharapan bahkan juga kedudukan yang sama di dalam iman kepada Kristus. Mari kita memegang teguh pengharapan itu dengan hidup yang semakin serupa dengan Kristus dari hari ke hari.

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Bapa yang baik, terimakasih atas pengharapan yang kumiliki dalam hidup beriman kepada-Mu, tolong ajarlah aku untuk hidup berkenan kepada-Mu sejalan dengan iman dan pengharapan itu.