BUKAN TANPA DAYA


Galatia 3 : 15 - 24

15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun. 16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan ”kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ”dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus. 17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. 18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. 19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran – sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu – dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. 21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. 22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. 23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia




Guyonan “peraturan dibuat untuk dilanggar” sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk masyarakat Indonesia. Memang tidak semuanya begitu, tetapi fenomena yang kita lihat sehari-hari menggambarkan demikian. Jargon negatif yang sudah merebak di masyarakat Indonesia sejak lama ini mungkin hanya dianggap sebagai guyonan semata ternyata memberikan dampak negatif pada pola perilaku masyarakat. Entah karena terbiasa mendengar jargon tersebut atau memang sudah terjadi degradasi moral di masyarakat itu sendiri.

(Sumber: Kompasiana)

Tentu pernyataan di atas sama sekali tidak benar, karena peraturan sejatinya dibuat untuk ditaati, sehingga tatanan kehidupan masyarakat bisa tetap aman dan stabil. Begitu pula dengan Hukum Taurat yang berlaku di tengah tatanan kehidupan umat Yahudi. Hukum Taurat itu dimaksudkan untuk menjaga ketertiban dan kekudusan hidup umat. Namun dalam kenyataannya, keberadaan Hukum Taurat itu justru semakin menambah pelanggaran-pelanggaran (dosa) umat Tuhan (ayat 19). Surat Paulus kepada jemaat di Galatia bermaksud memberikan jawaban atas kebingungan umat mengenai fungsi Hukum Taurat dan kasih karunia keselamatan yang Bapa berikan melalui Yesus Kristus (ayat 20-21). Rasul Paulus menjelaskan bahwa Hukum Taurat berfungsi sebagai penuntun sampai Kristus datang (ayat 24). Hukum Taurat tidak memiliki maupun sanggup memberikan daya kepada umat Tuhan untuk melawan kuasa dosa, sehingga pelanggaran terus terjadi. Karena itu Allah Bapa mengutus anak-Nya untuk mengalahkan kuasa dosa dan menyelamatkan manusia. Dengan demikian semua yang percaya kepada-Nya memiliki kuasa melawan dosa dan beroleh hidup yang kekal.


Sobat Teruna, mari bersyukur kepada Allah Bapa atas karya kasih Kristus. Mari menaati firman-Nya dan peraturan-peraturan pemerintah dengan tuntunan kuasa Roh Kudus. Ingatlah, kita bukan umat tanpa daya (kuasa)!

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, tolong ajar aku untuk selalu bersyukur karena keberadaanku yang lemah akibat dosa, telah dipulihkan oleh karya penyelamatan-Mu di kayu salib.