“SI TOU TIMOU TUMOU TOU”


Kisah Para Rasul 6 : 1 - 7

1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. 2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: ”Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. 3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” 5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia



Apakah Sobat Teruna pernah mendengar kisah Pahlawan Nasional bernama Sam Ratulangi? Nama lengkapnya, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Pahlawan asal Minahasa ini pernah berkata, “Si tou timou tumou tou.” Artinya, manusia disebut manusia bila memanusiakan manusia. Sam Ratulangi hendak mengajak umat manusia untuk saling mengasihi dan menghormati, menjaga kebersamaan serta saling bahu-membahu menyelesaikan persoalan bersama.


Dalam kisah hari ini, kita membaca tentang dipilihnya tujuh orang diaken untuk melayani orang miskin. Rupanya muncul persoalan ketika jumlah orang yang percaya kepada Yesus bertambah. Sejumlah ibu janda terabaikan dalam pelayanan. Sebab itu, para rasul memilih tujuh orang yang terkenal baik dan penuh roh dan hikmat. Para rasul berupaya menjaga kebersamaan di antara jemaat mula-mula saat itu. Jangan sampai ada yang merasa tidak diperhatikan. Pada gilirannya, masalah yang muncul dapat diselesaikan karena para pelayan dan seluruh jemaat saling bahu-membahu. Dengan demikian, suasana saling mengasihi dan menghormati di antara sesama anak-anak Tuhan dapat tetap terpelihara. Tidak ada yang merasa dilupakan atau tidak dianggap. Semua orang memperlakukan sesamanya sebagai sahabat, saudara dan bagian dari kehidupannya.


Sobat Teruna, bila ingin mensyukuri kemerdekaan bangsa ini, maka marilah kita menjaga kebersamaan yang ada. Ayo, saling bahu-membahu dan bekerja sama menolong sesama anak bangsa yang membutuhkan bantuan karena tidak memiliki akses belajar, seperti kita mengalami kesulitan bahan pangan karena kenaikan harga kebutuhan hidup bahkan kehilangan orang tua saat masa pandemi Covid-19 ini. Mari kita menabur kasih dan saling menghormati. Ingatlah “si tou timou tumou tou.” Merdeka!


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan, tolong ingatkan aku menaruh hormat dan mengasihi sesama manusia. Pakailah diriku menolong mereka yang kurang beruntung dan menderita.