HATI YANG MERINDU TUHAN


Kidung Agung 2 : 8 - 14

8 Dengarlah! Kekasihku !Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. 9 Kekasihku serupa kijang,atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiridi balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. 10 Kekasihku mulai berbicara kepadaku:”Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! 11 Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. 12 Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. 13 Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! 14 Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramudan elok wajahmu!”

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


Dua bersaudara Wang Hui dan Wu Lu adalah kembar identik yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga miskin, sehingga dititipkan di panti asuhan oleh orangtuanya. Mereka terpisah karena masing-masing diangkat sebagai anak oleh keluarga yang berbeda. Setelah 26 tahun terpisah, pada Maret 2018 mereka akhirnya bertemu kembali di Hangzhou, Tiongkok. Ketika mereka terpisah selama puluhan tahun, masing-masing sebenarnya saling tekun mencari dengan perasaan rindu mendalam. Ketika bertemu, mereka hanya mengalirkan air mata bahagia tanpa berkata-kata.


Demikianlah juga jika kita membayangkan gejolak rasa rindu mempelai perempuan yang mendamba sang kekasih. Ia menantikan dan menyaksikan kedatangan sang kekasih hati yang dalam keriangan, melompat-lompat sukacita di atas gunung dan bukit (ay. 8). Ia melukiskan kekasihnya dengan metafora kijang dan anak rusa yang bermain di padang dan lereng bukit (ay. 9a). Ini sebuah penggambaran tentang begitulah kiranya kerinduan kita kepada Allah. Walaupun sesungguhnya Allah yang terlebih dulu merindukan kita satu per satu. Hal itu kita ketahui dalam Yoh. 4: 23, di mana Allah Bapa menghendaki (lebih tepat merindukan) kita menjadi penyembah yang benar. Tuhan mencari dan merindukan kita! Apakah kita menyadarinya? Buktinya adalah salib! Ia rela mati menderita di kayu salib demi menebus kita, karena rindu bersatu dengan umat tebusan-Nya.


Teruna terkasih, mari kita nyalakan api kerinduan kita untuk bertemu Tuhan dengan bertekun mencari-Nya. Jangan sampai percik api itu sama sekali padam, mematikan hasrat untuk bertemu Allah. Berusahalah selalu berada dekat dengan Yesus melalui doa dan pujian kita bersama. Rasakanlah betapa besar kasih-Nya yang selalu melingkupi saat kita membaca dan merenungkan janji-janji-Nya di dalam firman Tuhan.




Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Allah yang pengasih, biarlah aku mau terus merindukan kehadiran-Mu agar senantiasa dapat merasakan kasih dan berkat-berkat-Mu dalam kehidupan ini.