AIR MATA KASIH


2 Korintus 2 : 1-4

1 Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita. 2 Sebab, jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita karena aku. 3 Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu. 4 Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


Ada orang mengatakan bahwa jika kita memutuskan untuk mengasihi sesama, maka juga harus siap menangis. Itu berarti mengasihi tidak selalu membuat seseorang menjadi tertawa bahagia, melainkan bisa juga menangis. Hal itulah yang terjadi pada diri Rasul Paulus. Rasul Paulus mengatakan bahwa ia menuliskan surat kedua kepada jemaat Korintus sambil mencucurkan air mata. Narasi tersebut menggambarkan kesedihan mendalam yang dialami oleh Rasul Paulus. Kesedihan yang mendalam itu ia rasakan karena jemaat Korintus yang sangat dikasihi oleh Paulus menyakiti hatinya. Mereka menyakiti hati Paulus setelah termakan hasutan dari orang-orang Kristen di luar jemaat Korintus. Orang-orang tersebut sengaja menghasut jemaat Korintus untuk memusuhi Paulus dengan mengatakan hal-hal buruk tentang dia. Dalam situasi seperti itu, Paulus mengambil keputusan untuk tidak mengunjungi jemaat Korintus. Itu bukan karena ia membenci jemaat Korintus, namun dia menyadari bahwa kesedihan yang mendalam bisa membuat emosi diri menjadi tidak stabil sehingga memicu terjadinya konflik. Rasul Paulus memilih menyelesaikan masalah dengan mereka melalui surat. Surat itu ditulis sambil mencucurkan air mata untuk menunjukkan betapa besarnya kasih Paulus kepada jemaat Korintus.


Sobat Teruna, melalui bacaan Alkitab hari ini kita menyadari bahwa keputusan untuk mengasihi sesama berarti harus siap menerima risiko mengalami kesedihan. Kesedihan itu terjadi karena orang yang dikasihi mengecewakan, menyakiti atau bahkan meninggalkan kita. Kita belajar dari Rasul Paulus bahwa walaupun mengasihi bisa menyakitkan, namun kasih tidak boleh sirna. Kasih seperti itu ditunjukkan juga oleh Allah kepada manusia. Walaupun manusia berulangkali mendukakan Allah, namun kasih-Nya tidak pernah sirna. Marilah terus menyatakan kasih kepada sesama walupun mungkin mereka menyakiti kita.


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, mohon berikan aku kemampuan untuk menyatakan kasih-Mu kepada sesama dalam situasi dan kondisi apa pun.