BELAJAR DARI SEMUT



 

1 Korintus 1:10-17

10 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. 11 Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. 12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. 13 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? 14 Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorang pun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, 15 sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. 16 Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis. 17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Dr. Christoph Kleineidam ahli perilaku hewan menghabiskan waktu yang panjang meneliti sistem kordinasi dan kerjasama kawanan semut. Ia kagum atas cara kerja yang terorganisir, apik dan kompleks yang ditunjukkan hewan berukuran mini tersebut. Banyak kesimpulan dari hasil penelitiannya. Salah satu kunci kesuksesan pola kordinasi semut adalah semua individu bekerja sesuai kemampuan-nya dengan motivasi dan semangat yang sama. Sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia seharusnya manusia bisa menciptakan kordinasi kerjasama yang lebih baik dari semut. Namun karena dilengkapi dengan intelegensia yang tinggi, ego-ego individu dan golongan manusia yang sering ditonjolkan, maka kita sering merusak nilai-nilai kebersamaan lupa tujuan dasar mengapa kita hidup.


Hal ini juga yang disoroti oleh Paulus terhadap perpecahan yang terjadi di jemaat Korintus. Mereka terkotak-kotak dalam komunitas golongan yang dibuat sendiri, sehingga mengakibatkan banyak perselisihan (ayat 11,12). Padahal Paulus mengharapkan mereka semua seia sekata, erat bersatu, sehati sepikir untuk menghindari perpecahan (ayat 10). Oleh karena itu, Paulus ingin mengubah cara berfikir jemaat dengan melihat kembali tujuan dasar dari ini semua, yaitu menerima Kristus dalam baptisan, serta memberitakan Injil tentang keselamatan yang diberikan-Nya melalui pengorbanan salib (ayat 13-17).


Sobat Teruna, ketika kita melihat banyak perselisihan terjadi di lingkungan sekolah, gereja atau tempat tinggal, mari belajar dari kawanan semut. Semut berhasil membangun sarang dan mengumpulkan makanan karena motivasi dasar yang kuat para individunya. Oleh karena itu, setiap kali ada potensi perpecahan yang timbul, kita harus segera kembali ke tujuan dasar hidup sebagai anak-anak Tuhan, yaitu menjadi terang dan membawa damai sejahtera bagi seluruh ciptaan kapan pun dan di mana pun kita berada. (VS)


 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, mohon jadikanlah aku pembawa damai di tengah-tengah lingkungan pergaulanku.