BELAS KASIHAN – MENGURANGI PENDERITAAN SESAMA


Matius 15: 32-39


32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: ”Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” 33 Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: ”Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” 34 Kata Yesus kepada mereka: ”Berapa roti ada padamu?” ”Tujuh,” jawab mereka, ”dan ada lagi beberapa ikan kecil.” 35 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. 36 Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. 37 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. 38 Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. 39 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu pulang. Ia naik perahu dan bertolak ke daerah Magadan.

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia



Sepanjang pelayanan yang dilakukan-Nya, Tuhan Yesus tidak hanya fokus pada kegiatan mengajar, tetapi benar-benar memberikan perhatian penuh pada setiap orang yang hadir. Ia dapat mengetahui kondisi mereka yang mulai mengalami kelelahan dan kelaparan, karena kehabisan makanan. Hati-Nya pun bisa tergerak oleh belas kasihan. Belas kasihan merupakan ungkapan perasaan yang muncul ketika melihat penderitaan orang lain sehingga tumbuh kerinduan dan kemauan yang sangat kuat serta mendalam untuk melakukan tindakan nyata agar dapat mengurangi penderitaan mereka. Kata belas kasihan ini memiliki nilai yang sangat mahal dan besar artinya, karena kata ini diucapkan oleh Tuhan Yesus di tengah-tengah situasi penuh kebencian, kemarahan, kegetiran, kegentaran, kekuatiran, ketakutan, iri, dengki yang dibangun oleh pemerintah Romawi saat itu, sehingga hati manusia diliputi keegoisan yang sangat tinggi, bukan penyayang dan tidak mengenal kasih. Hidup yang jauh dari kasih oleh karena keadaan, tampak dari jawaban para murid dalam ayat 33. Padahal dalam Matius 14:13-21, Tuhan Yesus baru saja memberi makan lima ribu orang. Mereka tidak mau membuka hati terhadap ajaran Tuhan Yesus. Mereka tetap memelihara hati yang penuh dengan keegoisan, kekuatiran, keragu-raguan, tidak percaya, bahkan putus asa sehingga tidak mempunyai belas kasihan.

Sobat Teruna, setiap pribadi maupun keluarga mempunyai permasalahannya masing-masing. Walau demikian, bersyukurlah selalu agar hati kita dapat merasakan dan memiliki belas kasihan seperti Tuhan Yesus. Ketika berada di tengah keluarga, kita dapat menolong orang tua dengan belajar sungguh-sungguh, membantu membersihkan rumah dan mensyukuri setiap makanan minuman yang tersaji setiap harinya tanpa mengeluh atau bersunggut-sunggut. Dengan melakukan itu, kita telah mengurangi penderitaan dan permasalahan yang dihadapi keluarga. (EJRZ)



Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, mohon bimbinglah hatiku, agar memiliki belas kasihan, sehingga aku dimampukan mengurangi penderitaan sesamaku, khususnya orang tuaku.