BERSAKSI DENGAN RENDAH HATI



 

Yohanes 1 : 19-28

19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: ”Siapakah engkau?” 20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: ”Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: ”Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: ”Bukan!” ”Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: ”Bukan!” 22 Maka kata mereka kepadanya: ”Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” 23 Jawabnya: ”Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. 25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: ”Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” 26 Yohanes menjawab mereka, katanya: ”Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, menjadi idola dan terkenal merupakan dambaan banyak orang. Bila kesempatan itu datang, pasti tidak akan disia-siakan. Banyak cara dilakukan orang dan bahkan yang dikorbankan untuk bisa mencapainya. Dengan menjadi terkenal, orang mengakui kita hebat dan mendatangkan berbagai sanjungan serta pujian.


Sobat Teruna, Yohanes bisa berada pada puncak popularitasnya bila saja dia mengaku sebagai salah satu di antara Mesias, Elia atau Nabi yang akan datang. Namun ia lebih memilih jujur dan merendahkan hatinya bahwa Yesus-lah pusat pemberitaannya. Dia hanyalah hamba, Yesus jauh lebih besar dan mulia. Yohanes menempatkan diri sebagai seorang hamba. Bahkan ia menyatakan bahwa untuk membuka tali kasut tuannya (Yesus Kristus) saja, dia merasa tidak layak. Ia membawa orang untuk bertobat, Yesus yang datang kemudian sebagai Penyelamat. Walau demikian, ia tetap bangga atas panggilannya dalam mempersiapkan kedatangan Yesus untuk menggenapi karya keselamatan Allah. Apa yang dilakukan Yohanes merupakan contoh merendahkan hati untuk meninggikan Yesus.


Sobat Teruna, dalam hidup ini banyak orang cenderung ingin diakui dirinya lebih besar dan orang lain harus dipandang lebih kecil. Akhirnya mereka gampang merendahkan orang lain dan menyombongkan diri sendiri. Harus kita sadari bahwa di balik prestasi dan keberhasilan yang diraih itu ada ‘campur tangan’ Allah. Kalau kita bisa belajar, berprestasi, berhasil maju dalam mengembangkan talenta yang dimiliki, semua karena pertolongan Allah. Jika Allah tidak mengijinkan semua terjadi, juga memberikan peluang maupun kesempatan maka kita tak akan meraih apapun. Karena itu mari bersaksi bukan untuk menyombongkan diri, tetapi dengan merendahkan hati. “Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 14:11). Biarlah dalam hidup ini hanya Allah yang ditinggikan. (HP)


 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Ya Allah, mohon tuntunlah aku agar selalu bersaksi untuk kemuliaan nama-Mu bukan untuk menyombongkan diri sendiri.