“BERSATU DAN JANGAN TERPECAH”



 

Efesus 2: 11-14


11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu – sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ”sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, – 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Suatu kali seorang pendeta berkotbah dan ia bertanya, “Adakah orang di sini yang tidak memiliki musuh?” Tidak lama seorang nenek mengacungkan tangannya. Pendeta itu segera memintanya untuk maju ke depan mimbar. Ia bertanya, “Berapa umur Oma?” Nenek itu menjawab dengan bangga, “Umur saya 92 tahun, Pendeta!” Pendeta itu berpikir dalam hatinya, “Wah hebat juga oma ini. Sudah setua ini, tapi tidak punya musuh.” Pendeta pun bertanya, “Bolehkah kami tahu apa resep oma sehingga sampai setua ini tidak memiliki musuh?” Nenek itu menjawab, “Resepnya karena semua musuh saya sudah mati sebelumnya.” Lelucon ini mengingatkan bahwa tidak ada orang yang seumur hidupnya tidak punya musuh.


Bacaan hari ini mengangkat ucapan Rasul Paulus seiring gencarnya kampanye sekelompok orang Kristen Yahudi dari Galatia yang mempertanyakan keabsahan status keselamatan dari orang-orang Kristen bukan Yahudi. Mereka menuntut agar orang-orang Kristen bukan Yahudi mempraktekkan sunat sebagai salah satu syarat keselamatan. Klaim ini ditolak oleh Rasul Paulus. Ia menyatakan darah Kristus telah mendekatkan hubungan orang-orang Kristen bukan Yahudi dengan Allah. Kristus telah menghilangkan perseteruan dan kini telah menggantikannya dengan damai sejahtera. Hal ini juga berlaku bagi hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan yang bukan Yahudi. Mereka bersama-sama telah dipersatukan oleh Kristus. Dengan demikian kita harus belajar untuk membangun hubungan yang baik dengan siapapun dan tidak lagi membangun tembok-tembok perseteruan dengan sesama.


Sobat Teruna, renungan hari ini mengingatkan agar kita membangun hubungan yang baik dengan siapapun. Ingatlah bahwa Tuhan memanggil kita untuk menghadirkan damai sejahtera di tengah-tengah situasi semacam ini. Jangan sampai kita malah yang menjadi sumber perseteruan dengan orang lain. RAJ

 


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


Doa: “Tuhan, mampukan aku untuk menjadi pembawa damaiMu di tengah kehidupan ini. Kiranya kasih Tuhan menyertaiku untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain di sekitar kehidupanku di manapun berada.