BUKAN YANG NYAMAN


2 Raja-Raja 18 : 1-8


1 Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. 2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. 3 Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. 4 Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. 5 Ia percaya kepada Tuhan, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. 6 Ia berpaut kepada Tuhan, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah Tuhan yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. 7 Maka Tuhan menyertai dia; ke mana pun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. 8 Dialah yang mengalahkan orang Filistin sampai ke Gaza dan memusnahkan daerahnya, baik menara-menara penjagaan maupun kota-kota yang berkubu.



Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


Sobat Teruna, melakukan perbuatan yang benar di tengah lingkungan yang tertib itu mudah. Sebaliknya, melakukan apa yang benar di tengah lingkungan yang melakukan ketidakbenaran tentu tidaklah mudah. Misalnya berlaku jujur di tengah teman-teman yang suka kejujuran tentu lebih mudah. Hal yang sulit ketika kita menjadi pelajar yang jujur di antara teman-teman yang terbiasa tidak jujur. Jika memilih tetap menjadi seorang yang jujur di tengah lingkungan yang tak jujur, risikonya kita bisa dijauhi. Mana yang kita pilih, aman dan nyaman atau benar serta jujur?


Hizkia menjadi Raja Yehuda di usia 25 tahun. Dalam kemudaannya dan minim pengalaman, ia hadir di tengah lingkungan yang terbiasa melakukan ketidak-benaran. Kalau Hizkia mau bermain aman dan mencari nyaman, sebenarnya bisa saja. Namun, Hizkia memiliki komitmen dan integritas yang tinggi. Dengan tegas ia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan, menyingkirkan semua tugu dan tiang berhala. Hizkia bahkan juga berani menghancurkan ular tembaga yang dulu dibuat oleh Musa karena telah dijadikan berhala oleh umat. Dalam kepemimpinannya, ia pun tidak mengandalkan kekuatan dirinya ataupun bangsa lain. Ia mengalahkan Asyur dan Filistin dengan mengandalkan pertolongan Tuhan. Hizkia melakukan apa yang benar karena ia sungguh berpaut (Ibr: dabaq: melekat, mengikuti dari dekat) pada Tuhan dan berpegang (Ibr: shamar: menjaga, mempertahankan) pada perintah-perintah Tuhan.


Sobat Teruna,mari melakukan apa yang benar menurut Tuhan dan bukan manusia. Lakukan apa yang benar dan bukan cari aman yang membuat nyaman. Selama berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya, penyertaan-Nya akan dicurahkan atas kita. Dengan demikian kehadiran Sobat Teruna di mana pun membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. (DNU)




Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Ya Tuhan, mohon tuntunlah aku agar selalu melakukan apa yang benar dan bukan mencari apa yang nyaman.