“GUSTI ORA SARE”



 

Ester 6 : 1-9


1 Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja. 2 Dan di situ didapati suatu catatan tentang Mordekhai, yang pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros. 3 Maka bertanyalah raja: ”Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?” Jawab para biduanda raja yang bertugas pada baginda: ”Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apa pun.” 4 Maka bertanyalah raja: ”Siapakah itu yang ada di pelataran?” Pada waktu itu Haman baru datang di pelataran luar istana raja untuk memberitahukan kepada baginda, bahwa ia hendak menyulakan Mordekhai pada tiang yang sudah didirikannya untuk dia. 5 Lalu jawab para biduanda raja kepada baginda: ”Itulah Haman, ia berdiri di pelataran.” Maka titah raja: ”Suruhlah dia masuk.” 6 Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: ”Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?” Kata Haman dalam hatinya: ”Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?” 7 Oleh karena itu jawab Haman kepada raja: ”Mengenai orang yang raja berkenan menghormatinya, 8 hendaklah diambil pakaian kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan yang diberi mahkota kerajaan di kepalanya, 9 dan hendaklah diserahkan pakaian dan kuda itu ke tangan seorang dari antara para pembesar raja, orang-orang bangsawan, lalu hendaklah pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!”



Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Dalam filosofi budaya Jawa, istilah “Gusti Ora Sare” adalah suatu ungkapan doa dan keyakinan iman (kredo) bahwa Tuhan yang Mahakuasa tidak pernah tertidur. Tuhan itu Mahatahu, Maha melihat dan Tuhan itu selalu memperhatikan setiap perbuatan manusia. Sederhananya, ungkapan itu mau menyatakan meski kebaikan kita dilupakan sesama, Tuhan pasti tetap tahu dan mengingatnya. Meskipun kebusukan atau kejahatan seseorang ditutup rapat-rapat, ada waktunya Tuhan untuk mengungkapkannya.


Usaha Mordekhai menggagalkan rencana jahat Bigtan dan Teresy untuk membunuh Raja Ahasyweros terlupakan begitu saja dan ia tidak memperoleh anugerah kehormatan dan kebesaran apapun juga. Namun, kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ketika Raja susah tidur, ia membaca catatan sejarah dan mengetahui kebenaran tentang Mordekhai (ay.2-3).


Perhatikanlah kepribadian Mordekhai. Ia bekerja dengan tulus, sungguh-sungguh, tanpa pamrih dan tidak menuntut balas jasa atas setiap perbuatan baiknya pada Raja. Sekalipun ia dilupakan, ia tetap diam karena Mordekhai seorang yang rendah hati dan dapat dipercaya. Baginya, sudah menjadi keharusan untuk melindungi keselamatan Raja, meski tidak mendapat upah. Berbeda dengan Haman, pribadi yang gila hormat (bnd 3:5-6), mengejar kekuasaan dan kemakmuran. Karena itu, Ketika Raja menanyakan anugerah yang pantas diberikan kepada orang yang berjasa terhadap kerajaan, Haman berpikir dialah yang akan mendapatkannya sehingga ia menyampaikan berbagai macam daftar hadiah dan arak-arakan sebagai upacara penghormatan (ay.4-9).


Sobat Teruna, kebaikan dan kebenaran pada akhirnya akan menang karena “Gusti Ora Sare”. Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap ketidakbenaran. Karena itu, mari sobat teruna, jangan pernah lelah melakukan kebaikan dan kebenaran, sekalipun sekitar kita tidak menghargainya. Yang terpenting Tuhan mengakui dan menghargainya. Sehingga nama Tuhan dimuliakan. (ES/ejrz)


 


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


“Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk berkarya dengan tulus dan mencintai kebenaran meskipun dilupakan”.