JALAN YANG LURUS


 

Mazmur 107 : 1-9


1 Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

2 Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan,

yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan,

3 yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri,

dari timur dan dari barat,

dari utara dan dari selatan.

4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara,

jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;

5 mereka lapar dan haus,

jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

6 Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka,

dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.

7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus,

sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

8 Biarlah mereka bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya,

karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,

dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.



Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


 


Sobat Teruna, ada sebuah kisah tentang pendaki yang tersesat dalam perjalanannya menuju puncak gunung. Dalam situasi itu, ia merasa panik dan bingung karena hari mulai gelap. Ia duduk dan menenangkan diri, lalu menaikkan doa kepada Tuhan. Ia memutuskan untuk berhenti dan mendirikan tenda, menunggu matahari terbit. Saat pagi hari tiba, ia mengucap syukur karena dia melihat jalan menuju ke puncak gunung.


Sobat Teruna, firman Tuhan pada hari ini menjelaskan tentang orang-orang yang ditebus oleh Tuhan. Kata “ditebus” berarti Tuhan menyelamatkan orang-orang Israel dari suatu kondisi atau situasi yang buruk yaitu pembuangan. Secara sederhana, Mazmur 107:1-9 merupakan suatu ungkapan syukur karena Tuhan menyelamatkan dan menuntun Israel kembali dari pembuangan. Kata “pembuangan” dapat kita kaitkan dengan kata “penjajahan” sebagaimana dalam sejarah Bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang dijajah.


Sobat Teruna, mengapa Israel bisa jatuh dalam pembuangan? Mereka sempat berpaling dari Tuhan. Mereka hidup di jalan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan menyediakan jalan yang lurus (Mzm. 107:7). Saat sadar sudah jauh dari jalan Tuhan, mereka kemudian memohon belas kasihan dari-Nya. Tuhan adalah pengasih dan penyayang. Ia mendengar permohonan mereka dan memberikan keselamatan.


Sobat Teruna, apakah kita hidup di jalan yang lurus? Pertanyaan ini baiknya menjadi suatu renungan dalam hati dan pikiran kita. Setiap kali memulai aktivitas, kita perlu untuk berdoa dan meminta penyertaan Tuhan. Mengapa? Itu karena terkadang kita bisa tersesat seperti seorang pendaki gunung. Jika tidak ingin tersesat, maka kita perlu memohon kepada Tuhan untuk menemani agar selamat.





 


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu. Tuhan, mohon berilah Roh-Mu yang Kudus menuntunku dalam perjalanan hidupku. Tolong jangan biarkan aku berjalan sendirian, Tuhan.