“JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI!”



 

Kisah Para Rasul 22 : 23-29

23 Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara. 24 Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. 25 Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: ”Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?” 26 Mendengar perkataan itu perwira itu melaporkannya kepada kepala pasukan, katanya: ”Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warganegara Rum.” 27 Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: ”Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?” Jawab Paulus: ”Benar.” 28 Lalu kata kepala pasukan itu: ”Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga yang mahal.” Jawab Paulus: ”Tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku.” 29 Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, apakah kita pernah melihat orang yang “main hakim sendiri?” “Main hakim sendiri” adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang memberi hukuman kepada orang lain tanpa proses peradilan yang benar. Contohnya, kita tidak jarang mendengar berita seorang maling dihajar oleh warga masyarakat tanpa lebih dahulu diadili secara jelas apakah benar orang itu mencuri atau tidak. “Main hakim sendiri” dapat terjadi karena adanya suatu dugaan yang tidak mempunyai dasar. Contoh, kita menuduh teman mengambil pensil. Padahal mungkin dia memang mempunyai pensil yang sama bentuknya dengan milik kita. Ada banyak sekali contoh kasus “main hakim sendiri” yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.


Sobat Teruna, bacaan Alkitab pada hari ini menceritakan tentang Paulus yang hendak dihukum oleh tentara Romawi. Peraturan di Romawi adalah warga negara Romawi tidak boleh dihukum tanpa melalui proses pengadilan. Ada dua cara untuk mendapatkan kewarganegaraan Romawi; yang pertama, secara kelahiran dan yang kedua dengan membayar sejumlah uang kepada pemerintah Romawi. Paulus memperoleh kewarganegaraan Romawi secara kelahiran karena kedua orangtuanya adalah orang Romawi. Tentara Romawi yang mengetahui bahwa Paulus merupakan warga negara Romawi sejak lahir merasa segan dan tidak jadi menghukum dia.


Sobat Teruna, pelajaran yang dapat dipetik di sini adalah kita tidak boleh mengadili seseorang tanpa mengetahui dengan jelas informasi tentang orang tersebut. Singkatnya, kita tidak boleh “main hakim sendiri.” Tuhan tidak menginginkan kita dengan semena-mena mengadili sesama manusia. Tuhan Yesus adalah sosok yang pengasih dan penyayang. Sebagai Teruna yang percaya pada Tuhan Yesus, kita pun harus menjadi sosok yang penuh kasih dan rasa sayang kepada sesama manusia. (BAI)


 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, tolong ajar aku untuk tidak “main hakim sendiri” dan menjadi anak yang mengasihi sesamaku.