JANGAN PURA-PURA!


Yesaya 58 : 1-3


1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan!

Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala,

beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka

dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!

2 Memang setiap hari mereka mencari Aku

dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku.

Seperti bangsa yang melakukan yang benar

dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya

mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar,

mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:

3 ”Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?

Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?”

Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu,

dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.


Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


“Semua hal-hal besar di mulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan yang besar.” Kata kutipan ini berisi motivasi untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala sesuatu. Kesungguhan mempunyai pengaruh besar pada apa pun.


Hubungan pribadi dengan Tuhan pun harus dilakukan dengan kesungguhan, bukan setengah hati, apalagi berpura-pura. Umat Tuhan – Israel – tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Melalui Nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan bahwa Ia melihat tingkah laku umat-Nya yang datang beribadah kepada-Nya. Memang mereka mencari Tuhan untuk belajar mengenal hukum-hukum-Nya yang benar. Mereka bahkan berpuasa. Sayangnya, motivasi mereka melakukan semua itu hanya untuk mencari perhatian Tuhan demi memperoleh keuntungan diri sendiri saja. Mereka tidak prihatin dan menolong orang-orang yang menderita karena penindasan. Peribadatan dan berpuasa hanya dilakukan sebagai formalitas. Mereka berpura-pura merendahkan diri agar tujuannya tercapai. Tuhan mengetahui hati mereka yang tidak tulus. Hal itu nampak dari sikap hidup yang tidak sesuai hukum kasih-Nya, seperti berbantah-bantahan dan berkelahi.


Sobat Teruna, ketika kita tidak sungguh-sungguh dalam beribadah, Tuhan juga mengetahuinya. Meskipun hal itu tidak dapat dilihat oleh manusia, tetapi ingatlah bahwa Tuhan sanggup melihat apa yang tersimpan dalam hati dan pikiran kita. Apakah pernah kita datang beribadah, tetapi hati dan pikiran terarah pada hal-hal lain dan bukan kepada Tuhan? Sadarlah bahwa ibadah adalah persekutuan kita dengan Tuhan. Ingatlah bahwa ibadah yang sejati bukan hanya datang beribadah, tetapi juga melakukan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari dengan sungguh-sunguh. Misalnya mengasihi orang lain karena kita dikasihi Tuhan. Ingatlah juga untuk melakukannya dengan ketulusan hati, jangan berpura-pura! Mulailah dari hal-hal kecil, maka pengaruhnya akan besar bagi kita dan sekitarnya. (EP)






Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Ya Tuhan, mohon jadikanlah aku teruna yang sungguh-sungguh mau datang kepada-Mu untuk memuji serta membesarkan nama-Mu dengan sungguh-sungguh dan ketulusan hati.