top of page

KENDALIKAN MARAH KITA!



 

Keluaran 32: 15-20

15 Setelah itu berpalinglah Musa, lalu turun dari gunung dengan kedua loh hukum Allah dalam tangannya, loh-loh yang bertulis pada kedua sisinya; bertulis sebelah-menyebelah. 16 Kedua loh itu ialah pekerjaan Allah dan tulisan itu ialah tulisan Allah, ditukik pada loh-loh itu. 17 Ketika Yosua mendengar suara bangsa itu bersorak, berkatalah ia kepada Musa: ”Ada bunyi sorak peperangan kedengaran di perkemahan.” 18 Tetapi jawab Musa: ”Bukan bunyi nyanyian kemenangan, bukan bunyi nyanyian kekalahan – bunyi orang menyanyi berbalas-balasan, itulah yang kudengar.” 19 Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu. 20 Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.



Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, marah adalah ungkapan kekecewaan yang bisa terjadi di dalam diri setiap orang. Namun seseorang harus dapat mengendalikan kemarahan tersebut. Kemarahan yang tidak terkendali, bisa berakibat mencelakai orang lain, diri sendiri bahkan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi korbannya.


Musa kecewa karena umat Israel tidak sabar menunggunya sampai dia turun menjumpai mereka. Ia terkejut lalu marah karena umat Israel telah membuat patung anak lembu dari emas dan menyembahnya. Melihat semuanya itu Musa tak sanggup mengendalikan kemarahannya. Musa merasa seakan-akan tidak ada artinya semua yang telah dilakukannya di gunung Sinai bersama Allah. Karena emosi, Musa menghancurkan dua loh batu yang telah ditulis oleh tangan Allah, yang seharusnya tidak menjadi korban kemarahannya. Musa menjadi gelap mata dan tidak menyadari bahwa yang dipegang serta dihancurkan itu adalah Firman Allah. Padahal itulah yang telah diperjuangkannya selama empat puluh hari di gunung Sinai. Firman Allah itu seharusnya ia beritakan dan ajarkan kepada umat Israel.


Sobat Teruna, kemarahan bukanlah hal yang salah. Kemarahan bisa jadi adalah wujud kekecewaan terhadap ketidakbenaran, ketidakadilan, kejahatan, dsb. Namun kemarahan harus disampaikan melalui cara yang benar dan ada buktinya, bukan karena mendengar fitnah atau pun hoaks. Sobat Teruna mungkin juga pernah kecewa atau pun patah hati, lalu diam-diam marah terhadap teman. Akhirnya mungkin Sobat Teruna menjadi galau, tak bisa tidur, tidak berselera untuk makan, nggak asik lagi belajarnya, dll. Berhati-hatilah! Marah adalah tamu tak diundang yang kadang menutup mata, pikiran, dan hati sehingga bisa mendorong kita berbuat sesukanya. Karena itu mari untuk tidak marah sampai berlarut-larut hingga matahari terbenam (Efesus 4:26). (Sdn)



 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


Ya Allah, tolong aku menjadi teruna yang mampu mengendalikan hati dan pikiranku agar tidak menyakiti orang lain ketika sedang marah.

Comments


bottom of page