MEMBUAT KEPUTUSAN YANG TEPAT



 

Roma 15: 22-29

22 Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu. 23 Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu, 24 aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu. 25 Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. 26 Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. 27 Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka. 28 Apabila aku sudah menunaikan tugas itu dan sudah menyerahkan hasil usaha bangsa-bangsa lain itu kepada mereka, aku akan berangkat ke Spanyol melalui kota kamu. 29 Dan aku tahu, bahwa jika aku datang mengunjungi kamu, aku akan melakukannya dengan penuh berkat Kristus.



Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, ada saatnya dalam perjalanan pelayanan Paulus, dia diperhadapkan pada keputusan-keputusan yang sulit. Seperti memutuskan ke Roma atau ke Yerusalem lebih dahulu. Di satu sisi, Paulus harus ke Yerusalem untuk menyerahkan bantuan bagi jemaat yang menderita kelaparan. Di sisi lain, ada kerinduan dan harapannya dapat berjumpa dengan jemaat-jemaat di Roma untuk memberitakan Injil. Namun ia ingat bahwa dirinya masih memiliki kewajiban untuk membawa persembahan kasih dari Jemaat di Makedonia dan Jemaat di Akhaya bagi saudara-saudara seiman di Yerusalem yang menderita kelaparan karena bencana alam. Paulus berpesan dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, “Apabila aku sudah menunaikan tugas itu dan sudah menyerahkan hasil usaha bangsa-bangsa lain itu kepada mereka, aku akan berangkat ke Spanyol melalui kota kamu” (ay.28). Paulus tidak ragu-ragu untuk menunda keinginan pribadinya demi melaksanakan kewajiban yang lebih prioritas atau lebih utama. Bagaimana dengan kita?


Sobat Teruna, dalam hidup ini kita pun sering diperhadapkan pada suatu pengambilan keputusan yang terkadang tidak mudah. Misalnya membuat keputusan yang menyangkut studi, teman sepergaulan, melakukan nasihat orang tua atau tidak, berkata jujur atau bohong, dll. Marilah kita belajar dari Rasul Paulus yang memutuskan untuk melakukan perintah Tuhan. Ia tidak mengutamakan keinginan dirinya sendiri, tetapi kepentingan dan keselamatan banyak orang. Jadi jangan pernah ragu untuk berkata tidak atau menunda suatu kegiatan yang mungkin bukan menjadi hal yang prioritas. Walaupun keputusan tersebut “tidak populer” dan mungkin karena hal itu kita dibenci, ditinggalkan oleh teman-teman, tetaplah jangan bimbang. Kalau hal itu demi sesuatu yang baik, jangan pernah menyesal dengan setiap keputusan yang kita buat. (YDTL)



 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


Tuhan Yesus, tolonglah aku ketika harus membuat suatu keputusan yang penting dalam hidupku. Mohon berikanlah aku hikmat sehingga beroleh kepekaan untuk bisa membedakan manakah keputusan yang benar dan tidak benar serta manakah yang sesuai dengan kehendak-Mu