top of page

MEMEGAHKAN DIRI


 

2 Korintus 12 : 1-6

1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. 2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. 3 Aku juga tahu tentang orang itu, – entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – 4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. 5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. 6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.


Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia

 


Membanggakan atau memegahkan diri itu sebenarnya tidak ada manfaatnya karena hanya melahirkan kesombongan. Orang yang sombong pasti menyebalkan. Bicara apa pun selalu akhirnya menjadi pamer tentang dirinya. Ia merasa hanya cerita tentang dirinya yang penting. Kisah orang lain tidak penting bahkan ia bisa sampai meremehkan orang lain.


Maksud yang berbeda tentang hal memegahkan diri rasul Paulus nyatakan dalam teks bacaan Alkitab hari ini. Ia menggunakan kiasan “kebodohan” dalam menjelaskan dirinya dan karya pelayanannya (lih. 2 Kor. 11:1). Rupanya jemaat di Korintus terpengaruh oleh tokoh-tokoh tertentu yang datang dan menuduh Paulus tidak layak dipercaya. Mereka meragukan kerasulan Paulus. Paulus menggambarkan mereka (dalam 2 Kor. 11:12-21) sebagai “rasul-rasul yang tak ada taranya” (2Kor. 11:5). Terhadap tuduhan-tuduhan itu Paulus memberi tanggapan. Salah satunya seperti yang terdapat dalam teks bacaan Alkitab hari ini, “barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan,” (2 Kor 10:17). Paulus menyatakan di sini bahwa dia juga memiliki pengalaman rohani dengan Kristus. Namun demikian, bila ia memegahkan pengalaman itu, maka dia sama bodohnya dengan para lawannya. Karena itu Paulus menahan diri agar orang menilai dia dari apa yang telah ia kerjakan di dalam jemaat, yaitu pelayanannya.


Sobat Teruna, di lingkungan pergaulan kita banyak yang suka membanggakan atau memegahkan diri. Dengan memegahkan diri, mereka merendahkan orang lain. Sebagai teruna-teruna Kristen, kita dipanggil bukan untuk memegahkan diri sendiri. Kita boleh bermegah, tetapi di dalam Tuhan. Artinya, menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang berbelas kasih, menyayangi, dan merangkul kita. Hal itu dapat kita lakukan dengan banyak cara. Kita dapat menunjukkan sikap hidup yang penuh kasih, ramah, dan suka menolong. (JEK)


 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Tuhan, mohon jauhkan dari aku dari sikap sombong ataupun memegahkan diri sendiri, tetapi tolong tumbuhkanlah sikap penuh kasih, ramah, dan suka menolong.





Comments


bottom of page