top of page

MEMEGAHKAN KEBODOHAN


 

2 Korintus 12 : 11-15

11 Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikit pun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. 12 Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. 13 Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini! 14 Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. 15 Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?



Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia

 


Sobat Teruna, setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, kekuatan maupun kelemahan, yang masing-masing berbeda. Orang yang sombong, tidak menyadari dan tak mau mengakui serta menerima kekurangan maupun kelemahannya. Padahal kita perlu mengakui dan menerima kelemahan diri agar dapat belajar hidup bergantung pada kuasa Tuhan.


Rasul Paulus berani mengakui kekurangan atau kelemahannya. Ia menggambarkan hal itu dengan menyatakan, “aku diberi suatu duri di dalam dagingku” (2 Kor. 12:7). Dengan kelemahan itu Rasul Paulus dapat bersaksi tentang kasih dan kuasa Tuhan dalam hidupnya (2 Kor. 12:9-10). Kalau pun Rasul Paulus menceritakan pengalaman rohaninya dengan Kristus (2 Kor. 12:1-4), itu karena dia merasa dipaksa oleh jemaat di Korintus. Baginya hal itu suatu kebodohan (2 Kor. 12:11a). Menurut Rasul Paulus, pelayanannya di tengah jemaat di Korintus yang dilakukan dengan kesabaran, disertai dengan kuasa Tuhan adalah bukti bahwa dia adalah rasul. Di samping itu, di dalam pelayanannya ia tidak menjadikan dirinya sebagai beban bagi jemaat. Ia juga melayani bukan untuk mencari keuntungan atau harta duniawi. Sebaliknya, ia telah mengorbankan miliknya dan dirinya sendiri. Hal itu menunjukkan betapa Rasul Paulus mengasihi jemaat di Korintus.


Sobat Teruna, mari kita meneladani sikap Rasul Paulus. Meski ia telah mengorbankan dirinya dalam pelayanan di tengah jemaat di Korintus, namun dia tidak mau memegahkan diri. Bahkan ia tidak mau membuat dirinya menjadi beban dan batu sandungan bagi jemaat. Dalam hal ini Rasul Paulus membuktikan diri sebagai orang yang kehidupan dan pekerjaannya bergantung pada kasih serta kuasa Tuhan. Kita perlu belajar dari hidup dan karya rasul Paulus serta mengaminkan Firman: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu” (2 Kor. 12:9). (JEK)


 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Tuhan, mohon ajarlah aku mengakui dan menerima kelemahan diri agar dapat belajar hidup bergantung pada kuasa-Mu.




bottom of page