MENGAPA MASIH RAGU-RAGU?



 

Kisah Para Rasul 22 : 12-16

12 Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. 13 Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. 14 Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. 15 Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. 16 Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, pernahkah merasa ragu? Hidup manusia selalu ada di antara dua pilihan yaitu antara baik dan buruk atau benar dan salah. Keraguan muncul, karena kadang pilihan yang ada tidak begitu jelas apa baiknya dan apa buruknya. Contohnya, memilih pergi dengan teman yang mengajak nongkrong atau membantu orangtua yang membutuhkan pertolongan kita. Bermain dengan teman adalah hal yang baik. Sedangkan membantu orangtua juga hal yang baik. Dalam hal ini, keraguan adalah moment of the truth (momen kebenaran). Keraguan adalah momen ketika kita harus memilih mana yang benar dan mana yang menjadi prioritas.


Bacaan kita hari ini menceritakan tentang percakapan antara Ananias dan Saulus. Saulus adalah nama Rasul Paulus sebelum ia menjadi pengikut Yesus. Pertemuannya dengan Ananias merupakan titik awal dari perjalanan Saulus menjadi seorang pengikut Yesus. Allah memakai Ananias untuk menyembuhkan mata Saulus yang sempat buta. Dari situlah, Saulus menyadari betapa besar kuasa dari Yesus Kristus. Ananias kemudian meyakinkan Saulus bahwa Allah menetapkan dia untuk mengetahui kehendak-Nya, melihat Yang Benar, mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya (ayat. 14). Allah juga menetapkannya untuk menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang dilihat dan didengarnya (ayat. 15). Setelah itu keraguan dalam hati Saulus pun hilang.

Sobat Teruna, hal keraguan juga seringkali terjadi pada orang percaya. Kita kadang masih ragu akan kuasa Yesus Kristus. Meskipun Allah sudah memberikan nafas kehidupan, kita kadang lebih suka mengandalkan kekuatan sendiri. Kita bahkan lebih mendengarkan ajakan yang tidak benar. Pelajaran yang kita dapat hari ini adalah jangan ragu terhadap kuasa Yesus Kristus dan lakukan kehendak-Nya dengan taat. (BAI)



 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Ya Yesus, mohon kuatkanlah hatiku agar tidak meragukan kuasa-Mu. Tolong ajar aku untuk hidup sesuai kehendak-Mu, Tuhan.